Keterbatasan Fisik tak Surutkan Osih Raih Cita-cita Jadi Guru PNS

“Mimpi masa lalu. Kenyataan hari ini” mungkin itu gambaran paling pas untuk sosok Osih Kurniasih, S.Pd. Alumni PKn UPI angkatan 1994 ini berhasil meraih mimpi masa kecilnya untuk menjadi Guru PNS. Ia yang ditakdirkan memiliki keterbatasan fisik sebagai tuna netra  mampu membuktikan betapa pentingnya arti dari sebuah mimpi.

Sejarah hidupnya penuh dengan lika-liku, dinamika ujian dan suka duka yang silih berganti. Namun  semangatnya  untuk bisa terus melanjutkan sekolah begitu menggelora di tengah keterbatasan yang ada. “Keluarga saya berasal dari menengah ke bawah. Ayah sebagai petani di desa. Ibu saya sudah tiada saat saya lahir,” tuturnya. Osih kecil punya cita-cita. Ia ingin sekali menjadi guru PNS. Cita-citanya inilah yang menjadi spirit dan motivasi dirinya dalam menjalani kehidupan.

Osih lahir di Majalaya, tepatnya di bawah Kaki Gunung Kamojang.  Semenjak usia 3 tahun terkena penyakit panas atau cacingeun yang menyebabkan tuna netra. Ia dirawat oleh uwaknya yang berprofesi sebagai petani sampai usia 6 tahun.  Uwaknya yang lain berprofesi sebagai lurah. Nah, uwaknya yang lurah inilah  yang berinisiatif mendaftarkan Osih ke SLBN Wyata Guna, Padjajaran, Bandung. Mulailah Osih bersekolah TK, SD, sampai SMP di Wyata Guna. “Saat itu saya ditengok hanya saat liburan saja. Selama di Wyata Guna nyaris tak pernah diberi uang. Betul-betul prihatin saat itu,” kenang Osih. Alhamdulillah, selama di Wyata Guna Osih dkk mendapat fasilitas makan, tempat tinggal dan sedikit uang jajan.

Selepas lulus SMP di Wyata Guna. Osih menghadapi kenyataan. Ia ingin sekali melanjutkan sekolah formal ke  SMA. Namun kondisi dana saat itu belum terpikirkan. Sebenarnya teman-teman Osih masuk ke sekolah rehab. Belajar memijat dan membuat keterampilan seperti sapu dan lainnya. “Saya berpikir kalau tinggal di rumah hanya tamat SMP mau ngapain. Saat itu saya tak berminat juga jadi pemijat. Pokoknya saya ingin terus sekolah,” paparnya. Rupanya ungkapan di mana ada kemauan, di situ ada jalan mendapat pembenaran. Uwak Osih mengusulkan untuk membiayai sekolah Osih di SMA, sepetak sawah peninggalan almarhum dijual untuk kebutuhan selama bersekolah di SMA Negeri 7 bandung. “Alhamdulillah selama tiga tahun saya dikasih uang oleh anak uwak untuk transport, jajan, dan biaya SPP sebagai hasil penjualan sawah,” terangnya.

Suka duka bersekolah di SMA Osih lalui dengan segala dinamikanya. Ia berhasil mengikuti pelajaran dan mampu beradaptasi. Keterbatasannya justru menjadi pendorong agar ia tuntas menyelesaikan belajar di bangku SMA tepat waktu.  

Ia mencoba peruntungan dengan ikut UMPTN dan mantap memilih jurusan PPKn IKIP Bandung.  Dewi fortuna rupanya menemani Osih. Ia dinyatakan lulus dan resmi menyandang sebagai mahasiswa  PPKn tahun 1994.

Osih kembali dihadapkan pada alasan klasik. Persoalan biaya. “Saya bertukar pikiran dengan uwak lagi karena ingin kuliah. Saya bertekad ingin meraih cita-cita jadi guru. Rupanya Allah kasih jalan. Ayah saya menyampaikan balong bisa dijual untuk biaya kuliah,” ungkapnya.  Mustinya balong itu untuk jatah kakaknya. Namun keluarga besar mendukung penuh agar Osih bisa kuliah. Kakak ketiganya yang akhirnnya membiayai kuliah dengan hasil menjual balong tersebut.

Transport untuk Kuliah Sering Habis

Selama menjalani kuliah Osih berjibaku dengan segala masalah dan tantangannya. Ia bercerita secara umum dapat mengikuti perkuliahan. Terlebih teman-teman seangkatannya begitu baik dan seringkali membantu. Begitu pun para dosen PPKn dinilai sangat baik. Beberapa nama dosen Osih sebut sebagai sosok yang seringkali memberi support dan itu sangat bermakna. “Pak Dasim suka menepuk bahu saya ketika ketemu. Beliau memberi motivasi bahwa saya bisa melalui perkuliahan dengan baik.” Selain Pak Dasim dalam memory Osih ada nama Prof. Cecep dan Prof. Karim yang suka mendukung langkah Osih untuk meraih sukses.

Osih mengenang beberapa kali tak masuk kuliah. Bukan karena alasan sakit atau lainnya. “Sempat tak bisa kuliah itu karena uang untuk transport habis. Kakak belum memberi uang.  Saya tak ada uang sama sekali, akhirnya tak bisa kuliah,” ujar Osih. Selama kuliah Osih tinggal di asrama Wyata Guna di Jalan Padjajaran Bandung. Ia musti naik angkutan umum ke kampus yang berada di Jalan Setiabudhi Ledeng.

Selain persoalan keuangan, Osih kerapkali mengalami tantangan saat mau ikut ujian. “Saat teman lain sudah siap ujian, terkadang saya masih dihadapkan pada belum adanya leader (orang yang membacakan soal ujian).  Hal ini membuat saya sedih,” akunya. Saat ujian Osih memang tak bisa sendirian. Ia musti dibantu oleh seseorang yang biasa disebut leader atau orang yang membacakan soal-soal ujian.

Ia juga sempat mengalami kejadian yang menegangkan sekaligus lucu kalau dikenang saat ini. Di depan kampus UPI dulu ada semacam kolam. Nah Osih berjalan beriringan dengan teman sesama tuna netra  menggunakan tongkat. “Suatu saat ada teman saya yang tercebur ke kolam. Basah kuyup pakaiannya  padahal mau masuk kuliah,” ungkapnya.

Tanah dan balong tak akan pernah terlupakan Osih. Ibaratnya tanah warisan dan balong keluarga itu ikut menghantarkan Osis meraih sarjana dan menjadi guru PNS.  “Saya bersyukur pada Allah SWT atas capaian saat ini. Alhamdulillah, saya sudah jadi guru PNS. Sudah lolos sertifikasi juga sejak 2012 lalu. Begitu pula rumah saya saat ini begitu dekat ke tempat kerja di SLB Negeri Citeureup, Cimahi,” pungkas isteri dari Saniman dan ibu dari Nurrizki Fauzi Pratama dan Nurfauzan Dwi Pamungkas.

Selamat untuk Teh Osih. Succes for you!

(Deni/IkaPknUpi)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*