Nuryadi: Jika Ingin Menjadi Penulis Jangan Bosan Belajar dan Terus Menulis

www.penadeni.com | “Saat saya menjadi mahasiswa yang memiliki komputer PC atau laptop masih langka tidak seperti saat ini. Saya menulis menggunakan mesin tik yang kalau salah harus diulangi lagi,” demikian kenang Nuryadi mengingat masa mahasiswa dua puluh tahun silam. Ia adalah alumni angkatan 1994 yang kini sebagai guru PNS dan mengajar di SMK Negeri Sukasasi  Sumedang. Selain mengajar, ia juga aktif menulis.  

Nuryadi, M.Pd  pertamakali mengenal dunia buku (penerbitan & percetakan) saat menjadi editor buku pelajaran di penerbit Grafindo Media Pratama. “Saat masih menjadi mahasiswa saya sudah tertarik dengan kegiatan tulis menulis tetapi tidak sampai dipublikasikan di dalam kampus UPI (IKIP Bandung). Hanya sekadar tertarik untuk menulis saja,” ujarnya.

Ia bercerita termotivasi menjadi penulis ketika kuliah akhir tingkat tiga. Pembimbing skripsinya saaat itu adalah Prof. Dr. Dasim Budimansyah, penulis buku pelajaran PPKn SMP di penerbit Epsilon. Dari sanalah Nuryadi semakin kuat keinginan dan ketertarikannya  terhadap dunia penerbitan/penulisan buku, khususnya buku pelajaran.

Selain itu, Prof. Dr. Dasim Budimansyah selaku dosen pembimbing sering memberikan motivasi bahwa di masa yang akan datang, guru bukan hanya harus bisa mengajar tetapi harus bisa pula menulis. “Banyak keuntungan jika seorang guru memiliki kemampuan menulis, selain keuntungan menyampaikan pemikirannya dalam tulisan juga keuntungan materi yang tidak sedikit,” tutur dosennya saat itu.  Bahkan Prof. Dasim menunjukkan hasil-hasil kerja kerasnya dari menulis buku, seperti kendaraan dan rumah. “Ini menjadikan motivasi kepada saya bahwa pekerjaan menjadi seorang penulis sangat menjanjikan bagi masa depan,” kenang Nuryadi.

 

Sempat Tak Ingin Jadi Guru

Selepas lulus S-1 PPKn UPI tahun 1999, Nuryadi sudah bertekad untuk tidak menjadi guru dahulu karena lulusan IKIP pasti menjadi guru. Ia ingin mencoba “dunia lain” di luar profesi guru. Di tahun yang sama secara tidak terduga, kakak kelas (Kang Yogi Sugiri angkatan 1991) menawarkan untuk menjadi editor buku pelajaran di Penerbit Grafindo untuk membantu menyelesaikan proyek buku Bank Dunia. Alhamdulillah, setelah melewati beberapa tes dan wawancara, ia diterima di penerbit tersebut. Mulai bulan November 1999, ia bekerja menyelesaikan dan mengedit buku-buku pelajaran.

“Sebenanrnya saya tidak memiliki dasar bagaimana cara mengedit buku yang baik dan benar. Namun selama proses tersebut, saya banyak mendapatkan ilmu dan pelatihan tentang masalah jurnalistik dan penerbitan. Saya tidak ujug-ujug bisa menulis, tetapi dengan menjadi editor maka seorang editor dipaksa untuk bisa menyempurnakan tulisan dari penulis sesuai dengan keinginan konsumen,” terang lelaki kelahiran Bandung, 7 Juli 1974 ini.

Nuryadi merasakan banyak suka dan duka selama menjadi editor. Menurutnya lebih banyak sukanya karena ia dapat berkenalan dengan beberapa penulis buku mata pelajaran sehingga ilmu dan kemampuan menulisnya semakin meningkat. Bahkan, ia sempat mengikuti lomba menulis buku cerita anak yang diselenggarakan oleh Kementrian Agama. “Alhamdulillah, buku yang saya tulis mendapatkan penghargaan dengan hadiah yang sebelumnya tidak saya duga,” ungkapnya.

Menurut Nuryadi semua penulis buku mempunyai ciri khasnya masing-masing. Salah satu buku pelajaran yang dieditnya adalah buku PPKn SMP dan SMA karangan Prof. Dr. Aim Abdul karim (dosen PKn UPI saat ini Wakil Rektor UPI). Prof. Aim adalah penulis yang sangat menginspirasinya dalam membuat buku teks pelajaran yang berbeda dan berkarakter. “Prof, Aim itu berupaya menjadikan buku PPKn yang ditulisnya sebagai “Buku Babon” di sekolah. Maka  tidak heran buku karya Prof. Aim banyak dicari dan banyak terjual di pasaran,” ujar ayah Nadiyah Nur Rabbani  dan Nafis Nur Azmi ini.

Setelah hampir sepuluh tahun menekuni dunia editor dan sempat menjadi editor “senior” tepat penghujung 2009 Nuryadi diterima menjadi Guru ASN di Kabupaten Sumedang sebagai guru PPKn di SMKN Sukasari Sumedang. Saat itu ia berpikir bahwa tamat sudah karirnya dalam dunia penerbitan atau dunia tulis menulis karena tidak akan bertemu lagi dengan naskah dan penulis-penulis handal. Sebenarnya ia tak ingin meninggalkan dunia penerbitan yang telah membesarkan dan membuatnya memiliki kemampuan menulis walaupun hanya menambah-nambahkan tulisan dari penulis utama.

Rupanya kekhawatiran tak terjadi. Setahun menjadi guru ASN, ada teman yang dulu sama-sama bekerja di penerbitan memberitahu bahwa Kementrian Pendidikan Nasional menyelenggarakan sayembara penilaian penulisan buku pelajaran wajib untuk SMA/SMK/MA. Waktu itu, ia sempat ragu untuk mengikuti perlombaan penilaian tersebut. Namun, atas dorongan dan motivasi dalam diri agar ilmu yang dimilikinya  sedikit dapat dibaca dan bermanfaat bagi anak-anak di seluruh Indonesia. Maka Nuryadi mencoba menulis materi pelajaran sesui dengan kurikulum KTSP untuk diikutsertakan dalam sayembara penilaian penulisan buku teks pelajaran. Setahun, setelah naskah buku dikirimkan ke Kemendiknas ada balasan bahwa naskahnya diterima dan dibeli oleh kementrian dengan nilai nominal yang sangat besar.  Ia mengira setelah naskah hasil penilaian dibeli oleh kementerian, tidak akan ada lagi kegiatan yang lainnya.

Tahun 2012, kementrian mengundang para penulis yang naskahnya lolos penilaian sesuai dengan kurikulum KTSP. Ia bersama para penulis lainnya diminta menyusun dan menulis materi PPKn yang KI KD yang telah disiapkan oleh tim perumus kurikulum. Naskah buku tersebut dipersiapkan untuk buku Kurikulum 2013. Selama dua tahun kurang, buku PPKn kurikulum 2013 pun selesai dibuat. Buku ini dicetak pada tahun 2014. Nuryadi sebagai penulis, khususnya Kelas X merasa sangat bangga bisa mempersembahkan tulisan yang dapat ikut membantu mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, setelah buku diterbitkan dan dibagikan ke sekolah-sekolah oleh kementerian, ada beberapa perbaikan dan masukan dari rekan-rekan guru di lapangan tentang materi sehingga perlu direvisi. Akhirnya, buku revisi kurikulum 2013 selesai tahun 2016.

“Sekarang, buku tersebut sudah tersebar di seluruh Indonesia. Buku yang saya tulis adalah Buku Teks PPKn Kelas X. Mengapa hanya kelas itu saja menulis?Ini merupakan tantangan kepada saya untuk menyajikan materi pengantar PPKn dari tingkat SMP ke SMA dalam buku,” tegasnya.

Mengedit Banyak Buku

Nuryadi pernah menulis dan mengedit beberapa buku berbagai mata pelajaran, baik yang berbentuk modul, LKS atau bunga rampai. Untuk menambah wawasan, ilmu, dan pengalaman dalam menulis buku pelajaran PPKn, ia melanjutkan pendidikan sampai magister (S-2 PKn) pada 2014 dan lulus tahun 2016. Tesisnya pun tak jauh dengan kemampuan dan pemahaman dirinya tentang Buku Teks PPKn SMA. Alhamdulillah, melalui bimbingan Prof. Dr. Aim, tesisnya menjadi dasar pedoman dalam menyusun buku teks pelajaran, khususnya PPKn yang baik.

Nuryadi memberi tips sukses. “Jika ingin menjadi penulis, jangan pernah bosan untuk belajar dan terus menulis. Menulis apa? Menulis apapun. Sehingga kita akan terbiasa mengungkapkan pikiran kita dalam tulisan,” ujarnya sembari tersebyum.

Ia menambahkan menulis buku untuk anak-anak dan buku teks memang sangat berbeda. Sebaiknya pahami psikologis orang yang akan membaca tulisan kita. Apakah anak-anak, remaja atau orang tua sehingga takaran tulisan sesuai dengan orang yang membacanya.

Nuryadi tak menyangkal. Menjadi seorang penulis memiliki kendala, seperti tidak ada ide yang akan ditulis atau  tidak memiliki relasi untuk mempublikasikan tulisannya. Ia berpandangan seorang penulis harus memahami kurikulum yang dijadikan pedoman dalam menyusun buku teks pelajaran.

Kiat lainnya harus nisa membagi waktu mengajar dan menulis. Jika ada waktu kosong mengajar bisa diisi dengan menulis. “Saat ini, saya masih menulis buku teks pelajaran PPKn di salah satu penerbit di kota Bandung untuk tingkat SMK/SMA/MK/MA kelas X, XI, dan XII,” pungkas suami dari Siti Nurjanah itu.

Bagi teman alumni yang ingin menghubungi sosok guru penulis ini dapat mengirimkan melalui email:  nanuryadi@gmail.com.

(Deni/IkaPknUpi)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*