Berkarier di Kemendagri, Aang Witarsa Rofik Jabat Kabid Humas

Dr. Aang Witarsa Rofik, M.Si. boleh dibilang sebagai salah satu alumni PKn UPI yang tak biasa. Ketika sebagian besar alumni lainnya menjadi guru atau dosen, alumnus angkatan 1998 berkarier di birokrasi pemerintahan. Kini, dipercaya memangku jabatan sebagai Kabid Humas Kemendagri.

Ia bercerita mendaftarkan diri tes CPNS Tahun 2008 untuk pertama kalinya sebagai CPNS di Kementerian Dalam Negeri dan tak pernah terbayangkan sebelumnya. Mengapa? Karena rupanya Aang tidak memiliki peluang untuk bisa mengikuti tes CPNS sebagai guru PPKn. 

“Saya ingat betul saat itu, di kota tempat tinggal saya, yaitu Kota Bandung maupun kota sekitar Bandung tak ada formasi guru PPKn.  Selain itu terkait kelengkapan administrasi berupa keterangan domisili jika ingin mendaftarkan di kota lain,” ujarnya. 

Sebenarnya bisa saja memaksakan diri dengan cara mengurus KTP di daerah selain domisili (Nembak KTP), namun tentunya hal itu jelas menyalahi aturan apalagi saat ini Nomor Induk Kependudukan (NIK) merupakan nomor identitas penduduk yang bersifat unik atau khas, tunggal, dan melekat pada seseorang yang terdaftar sebagai penduduk Indonesia. Tidak bisa sembarangan penduduk membuat KTP dengan data yang palsu. 

Aang menambahkan kesempatannya untuk menjadi CPNS di luar formasi guru PPKn sangat sulit jika hanya mengandalkan ijazah yang ia miliki saat itu. Menurut pengakuannya harapan dan cita-cita tidak hanya menjadi guru PPKn namun juga memiliki keinginan mengabdi di almamater PPKn UPI. “Namun saya harus realistis untuk dapat bergabung bukan hanya mengikui rangkaian tes dan hasil tes yang memenuhi kualifikasi, tetapi tidak kalah penting mendapatkan dukungan dari para dosen dan senior-senior yang ada di jurusan,” terangnya.

Selepas lulus sebagai mahasiswa jurusan PPKN UPI tahun 2003 pekerjaan pertama kalinya sebagai editor di Penerbit Grafindo Media Pratama. Tak berselang 2 (dua)  tahun ia memutuskan berhenti dan melanjutkan studi Magister (S2) di Universitas Padjadjaran (Unpad) pada Jurusan Ilmu Politik tahun 2005. Aang berhasil menyelesaikan dalam waktu singkat sekira 1,5 tahun. Sukses menyandang gelar magister (M.Si) lantas ia berpikir bahwa dengan ijazah dan latar belakang pendidikannya  tentunya lebih lebar membuka kesempatan untuk menjadi seorang PNS. 

“Tidak sengaja saya membuka website beberapa Kementerian/Lembaga bahkan Pemda mencari formasi yang tepat, sehingga saya menemukan saat itu di Kementerian Dalam Negeri membuka beberapa formasi CPNS salah satunya untuk formasi S2 Ilmu Politik berjumlah 4 formasi yang diperebutkan oleh para peserta lulusan S2 ilmu politik perguruan tinggi ternama di Indonesia, berangkat dari keyakinan dan proses seleksi CPNS yang fair, Alhamdulillah saya diterima menjadi salah satu CPNS Kemendagri dengan bersaing dengan teman-teman dari perguruan tinggi lainnya satu kebanggaan bagi saya, bisa bergabung dengan kementerian besar seperti Kemendagri,” kenangnya.

Menggunakan Ijazah S2

Menurut penuturannya bisa mendaftarkan diri sebagai CPNS di Kemendagri dengan menggunakan ijazah S2, karena untuk formasi yang dibuka adalah S2 Ilmu Politik. Bukan berarti ijazah S1 tidak penting. Tanpa ijasah S1 tidak mungkin bisa melanjutkan studi S2, dan melalui pengalamannya studi di jurusan PPKn itulah banyak sekali mendapatkan hal-hal penting dalam hidup, tidak hanya masalah urusan perkuliahan, siapapun bisa untuk menyelesaikan perkuliahan jika hanya itu niatnya. “Di UPI itu saya dipertemukan dengan guru-guru yang bagi diri saya banyak sekali menginspirasi dengan berbagai hal yang sudah beliau-beliau contohkan. Selain itu, pengalaman ormawa di UPI pada saat itu sangat menggembleng bagaimana belajar aspek kepemimpinan, bekerja sama dalam satu tim dengan pola pikir berbeda, berbagi pengalaman dengan teman, senior, bahkan adik-adik angkatan yang berasal dari berbagai daerah dengan segala dinamikanya.”

Dengan jujur Aang mengakui pilihan berkarier di Kemendagri bukanlah sebagai tujuan yang disiapkan sejak awal, tetapi lebih pada kesempatan dan mencoba untuk keluar dari zona bahwa alumni/lulusan UPI harus jadi guru. Banyak kesempatan sebenarnya dalam menentukan pilihan-pihan karier ke depan. Ia pun sadar setelah masuk ke Kemendagri sebagai momentum untuk tidak menyia-nyiakannya karena tidak hanya membawa diri, tetapi membawa nama baik almamater, baik sebagai alumni PPKn UPI yang selalu saya banggakan maupun sebagai alumni Unpad. Semua itu bagian tanggung jawab untuk selalu menjaga nama baik yang harus tercermin dari setiap pola sikap, pola tindak, kapasitas, integritas dan komitmen sebagai ASN yang selalu harus memberikan pelayanan yang baik sesuai bidangnya masing-masing.

Banyak hal yang Aang rasakan ketika bisa bergabung di Kementerian sebesar kemendagri dengan segala dinamikanya. Menurutnya Kemendagri itu sebagai poros pemerintahan dalam negeri yang mengurusi banyak sekali urusan pemerintahan dalam negeri. Sukanya banyak hal pembelajaran yang tidak didapat dari pendidikan formal, secara langsung dapat menimba ilmu dan pengalaman dari para tokoh nasional dalam berbagai forum dan kesempatan, dapat bersilaturahmi dengan saudara-saudara dari Sabang sampai Meuroke dari Miangas sampai Pulau Rote dan banyak hal-hal yang menyenangkan di Kemendagri.

Tokoh yang Menginspirasi
Ditanya perihal tokoh yang menginspirasi, ia mengaku banyak tokoh yang menginspirasi, tapi yang paling nyata dan dekat dalam kehidupannya adalah kedua orang tua. Beliau sangat gigih dan terus memberikan semangat di tengah-tengah keterbatasan dengan selalu mengiringi dengan doa-doa baiknya dan itu yang ia rasakan. “Setiap cita-cita harus diperjuangkan.  Apapun hasilnya pasti pasti memberikan keberartian dalam hidup,” tegasnya.  Aang mengakui  ada sosok dosen PPKn  yang selama ini menginspirasi yaitu Prof. Dr. Karim Suryadi, M.Si. (Saat ini menjabat Ketua Dewan Guru Besar UPI).  

“Sejak mengenalnya banyak hal yang dapat dijadikan inspirasi, seperti kegigihan beliau dalam setiap aktivitasnya, baik di kampus maupun di luar. Prof Karim juga seringkali mengingatkan agar keluar dari “zona nyaman”, ada istilah yang sering diucapkannya dalam Bahasa Sunda “Tong Kurung Batokeun”, banyak sekali saya mendengar celotehan-celotehan yang agak pedas tapi sampai saat ini terbersit dalam setiap ingatan saya dan secara tidak langsung saya merasakan bahwa apa yang diucapkannya telah menginspirasi saya,” ujar tim penyusun UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu tersebut.

Menjabat Kabag Humas Kemdagri 
Aang saat ini alhamdulillah diamanati sebagai Kepala Bagian Humas Kemendagri. Jabatan itu menjadi tantangan baru. Selama 11 tahun lebih ia bertugas di Kemendagri menangani urusan politik dalam negeri. 

“Tugas saya saat ini di humas secara umum melaksanakan penyusunan bahan publikasi, penerbitan dan dokumentasi serta membina hubungan dengan lembaga resmi termasuk pemerintah daerah dan masyarakat serta analisa media massa dan media sosial,” tegasnya. 

Selain itu, dalam keseharian melekat tugas menyiapkan bahan materi publikasi Mendagri, serta menulis materi-materi yang menjadi kebijakan strategis Kemendagri kepada publik.

Terakhir Aang berpesan untuk adik-adik Jurusan PPKn UPI untuk selalu belajar dari siapapun. “Jangan ucapkan kata susah dan tidak bisa sebelum berusaha sampai titik batas kemampuan. Masa depan bukan apa yang kita lihat hari ini tapi buah dari setiap kebajikan yang akan dituai kelak. Terakhir “Menyampaikan kebaikan jauh lebih mudah daripada menyampaikan kebenaran,” pungkasnya.

***

(DKA/Wasekjen IKA PKn UPI)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*