Akhirnya Bisa Mutasi Tahun Ini

Alhamdulillah. Proses panjang dan berbelit itu akhirnya tuntas kulalui. Mutasi, ya mutasi. Hampir dua tahun proses mutasi kulalui dengan segala dinamikanya. Sabar dan tekun. Tak ada kata menyerah atau putus asa. Semua dihadapi dengan segala suka dukanya.

Man jadda wajada. Demikian sebuah ungkapan yang sering kudengar. Ungkapan itu pula yang terus kupegang selama menjalani proses mutasi. Kuncinya ada pada kesungguhan. Berbagai aral rintangan, halangan yang menghadang tak menyurutkan langkah untuk mundur. Terus dan terus dihadapi. Dimarahi, didiamkan, dicemooh, diabaikan dan lainnya harga yang musti dibayar. Tak mengapa? Toh perjuangan memang membutuhkan pengorbanan. Tak hanya waktu, materi, pikiran bahkan perasaan.

Tak sedikit yang menyarankan agar aku mengurungkan proses mutasi itu. Terutama kala hambatan menghadang. “Udahlah di sini saja, ngapain mutasi segala,” demikian salah satu permintaan dari seorang teman. “Apa sih yang kamu cari dengan mutasi itu?” pernyataan teman lainnya kerap singgah di telingaku.

Namun, sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang. Tekad sudah dibulatkan. Lantas apa sesungguhnya yang mendorong aku bersikeras untuk mutasi? Ingin dekat dengan orangtuaku—-terlebih lagi mamahku. Ya, itulah sesungguhnya motivasi utama mengapa aku mutasi. Sejak 2001 selepas lulus dari UPI Bandung aku merantau jauh meninggalkan orangtua tercinta. Sejak merantau itulah aku pulang bertemu orangtua nyaris hanya setahun sekali atau dua tahun sekali saja. Itu kadang dan sering membuatku merasa kangen yang sangat. Bahkan ada kalanya begitu menyiksa batinku,

Keyakinan. Itulah faktor lain yang juga penting. Saat aku pancangkan ingin mutasi aku yakin akan bisa melakukan prosesnya walau begitu rumit dan sulit. Keyakinan telah menjadikan aku untuk terus melangkah. Keyakinan itu pula yang membawaku untuk tetap optimis di tengah hambatan dan kendala yang begitu dirasa berat.

Doa ibu. Inilah aspek lainnya. Ini pula yang begitu besar menurutku akan keberhasilan mutasiku. Do’a seorang ibu kala penghujung malam datang sungguh memberika spirit yang tak bisa tergantikan. Aku merasa do’a ibu begitu luar biasa.

***