Kala Sang Batuk Datang Menghampiri dan Tak Mau Pergi

Beberapa hari ini saya didera sakit batuk dan kepala pusing.  Sakit kepala dalam satu hari kemudian telah sembuh setelah makan malam dengan rica-rica yang super pedas. Namun,  penyakit batuknya sampai kini masih terasa. Tenggorokan serak dan perih. Rasanya juga gatal dengan suara parau.

Saya mencoba mengingat-ingat apa yang menyebabkan saya terserang penyakit batuk ini? Kemudian saya teringat bahwa enam hari lalu saya berurut-turut keramas setelah terkena air hujan sepulang kerja. Padahal saat itu kondisi badan sedang kurang fit. Rasanya lelah dan greges-greges hampir sekujur tubuh.

Puncaknya pada hari Selasa lalu, saya tidak sempat sarapan karena kesiangan bangun. Akhirnya saya baru sarapan di kantor pada sekitar pukul 08.00 WIB. Saya hanya sarapan nasi kuning yang dibeli di kantin dan air minum yang saya teguk begitu sangat panas.  Saya tidak langsung minum dan tertunda sampai dua jam berikutnya. Akhirnya jadilah saya terserang batuk. Aneh memang. Apa hubungannya antara minum air panas dengan sakit batuk.

Kini, saya masih ditemani sang batuk. Sampai saat ini pun saya belum pergi ke dokter atau beli obat ke apotek. Saya ingin penyakit ini sembuh dengan sendirinya tanpa saya harus minum obat yang berbau kimiawi. Malas rasanya kalau saya harus minum obat dari dokter.

Faktanya saya merasakan kesulitan saat makan di warung makan karena hampir semua sayuran dan jenis makanan dibumbui dengan lombok. Seharusnya saya tidak dulu mengkonsumsi makanan yang pedas. Namun,  malah aneh. Malam Rabu silam saya nekad makan nasi dengan bebek goreng di Alun-alun Majenang. Tak lupa dengan sambel yang pedas. Oalah.. batuk saya malah tambah parah. Hemmmm…

Batuk yang masih mendera malah ditambah dengan flu. Dari hidung keluar air disertai bersin-bersin yang terus-menerus. Rupanya saya harus masih bersabar agar penyakit batuk plus flu ini segera bilang goodbye kepada saya. Saya belum mau mengusirnya dengan mengkonsumsi obat kimiawi.

Seorang teman menyarankan saya untuk minum obat tradisional berupa jeruk nipis diperas dan dicampur dengan kecap. Mungkin saya harus mencoba resep tersebut.

Atau entahlah… mungkin dia (batuk), masih suka dan kangen sama saya sehingga belum juga beranjak pergi meninggalkan saya. Padahal saya sudah sangat siap kalau dia pergi.

***