Pekerjaan Rumah Bupati Cilacap Terpilih di Bidang Pendidikan

Selesai sudah perhelatan pilkada  Cilacap. Kabupaten yang posisinya paling barat dan memiliki wilayah paling luas di Jateng dengan total   225. 360,840 hektare  ini turut dalam pilkada serentak, 15 Februari 2017 lalu. Ada tiga pasangan calon yang mengikuti pesta demokrasi itu yakni pasangan Taufik Nur Hidayat-Faiqoh Subqy nomor urut 1, pasangan Tatto Suwarto Pamudji-Syamsul Aulia Rachman urut 2 dan terakhir pasangan Fran Lukman-Bambang Sutanto urut 3.

piljadaDari tiga pasangan calon tersebut, paslon incumbent atau nomor urut 2, Tatto Suwarto Pamudji-Syamsul Aulia Rahman yang didukung Partai Golkar, PAN, PKB dan Demokrat berhasil memenangkan pertarungan. Menurut data KPUD Cilacap yang dilansir  www.kpud-cilacapkab.go.id (Rekapitulasi dan Penetapan Penghitungan Suara, 23/2/2017)  pasangan Tatto-Syamsul berhasil meraih suara sebanyak 515.059. Disusul paslon urut 1 Taufik Nur Hidayat-Faiqoh Subqy meraih dukungan 249.081. Terakhir yang paling buncit diraih pasangan nomor urut 3 Fran Lukman-Bambang Sutanto yang harus puas di angka 150.367 suara.

Hasil ini telah diprediksi sebelumnya oleh para pengamat dan tokoh masyarakat. Sebagian besar masyarakat Cilacap masih memiliki harapan kepada incumbent. Untuk Tatto Pamudji sendiri diuntungkan karena dua rivalnya yaitu Taufik dan Fran Lukman merupakan tokoh PDI Perjuangan. Taufik merupakan ketua DPC PDI Perjungan saat ini sedangkan Fran Lukman adalah ketua DPC PDI Perjuangan periode sebelumnya. Saat daftar menjadi calon, Fran Lukman melalui kendaraan politik Partai Gerindra dan PKS.

Pasca kemenangan yang diraih Tatto Suwarto Pamudji-Syamsul Aulia Rahman dalam pengamatan saya ada sejumlah pekerjaan rumah yang menanti. Pertama, kesejahteraan guru honorer. Kedua, fasilitas pendidikan belum memadai. Ketiga, kurangnya guru SD dan keempat, mutu sekolah belum merata.

Dari keempat permasalahan itu, kurangnya guru SD dan rendahnya kesejahteraan guru honorer seolah menjadi masalah yang sulit diurai. Saya pernah diskusi dengan salahsatu guru SD di Wanareja dan terungkap bahwa di sekolah SD-nya itu yang menjadi guru semuanya adalah guru honorer kecuali hannya kepala sekolahnya yang berstatus PNS. Ketika ditanya tentang kesejahteran guru honorer ia mengatakan dengan lugas bahwa rata-rata guru honorer dibayar Rp. 200.000 sampai Rp. 300.000.  Bandingkan dengan UMR Kabupaten Cilacap yang mencapai Rp. 1.693.689 (Dinsosnakertrans Cilacap, 2017). Nampak bahwa honor yang diperoleh para guru tersebut sangat tidak layak bahkan tidak manusiawi.

Saatnya Bupati Cilacap terpilih untuk peduli. Kepedulian ini dengan menelorkan program insentif bulanan bagi guru honorer yang bersumber dari APBD. Bupati harus menunjukkan keberpihakannya secara nyata kepada para guru honorer. Hal ini sebagai implementasi dari program Tatto Pamudji mengenai  kebijakan Bangga Mbangun Desa-nya yang selama ini sebagai slogan kampanye.