Dulu Pedagang Kaki Lima, Kini Berprofesi Dosen

penadeni.com | Pernah jualan di kaki lima, sekarang menjadi seorang dosen. “Hidup seperti roda berputar” [1] pepatah ini rupanya tepat menggambarkan nasib baiknya. Ia saat kuliah pada jurusan PKn UPI Bandung periode 1995-2002 harus nyambi berjualan sandal di kaki lima Pasar Kiaracondong, Bandung.

Mengapa? Karena harus membiayai sendiri keperluan kuliahnya. Setelah ayah tercintanya wafat dua bulan setelah ia masuk IKIP Bandung tahun 1999. Biasanya berjualan selepas kuliah sampai malam. Ulet dan tekun yang akhirnya membuat ia berhasil menyelesaikan kuliahnya dan kini menjadi seorang dosen.

Saat mahasiswa lainnya—termasuk saya, mengandalkan biaya kuliah kiriman dari orang tua dan atau beasiswa, maka suami dari Fitri Resmiati, S.Pd. dan ayah dari Muhamad Luthfi Ardiansyah dan Anindya Tresna Dewi menjadi pembeda. Ia sudah bisa mandiri bahkan menopang kehidupan ekonomi keluarganya saat itu. Sebagian temannya termasuk saya acung jempol pada dedikasi dan semangatnya. Tidak mudah pastinya, menjalani kuliah sembari bekerja. Butuh energi dan kerja keras luar biasa.

Sosok itu adalah Rahmat Sudrajat, yang kini berprofesi menjadi dosen di Program Studi PPKn Fakultas PIPSKR Universitas PGRI Semarang (UPGRIS). Sebelum menjadi dosen Rahmat sempat menjadi guru Tata Negara di SMA Bina Dharma 2 Bandung (Juli 2002-Juni 2005), guru Bidang Studi PKn di SMA Bina Dharma 2 Bandung (Desember 2003-Agustus 2012), guru Sosiologi di SMA Bina Dharma 2 Bandung (Juli 2005- 2011), guru Sosiologi dan menjadi Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum di SMA Taruna Unggul Ganesha Bandung (2005- 2007), guru Mata Diklat IPS di SMK Medikacom Bandung (Juli 2006-Juni 2007) dan terakhir pengajar PKn di SMK ICB Cinta Teknika Bandung. (Juli 2008-Agustus 2012).

Selanjutnya tepat mulai September 2012 sampai sekarang ia diberi kepercayaan menjadi dosen IKIP PGRI Semarang atau saat ini dikenal Universitas PGRI Semarang. Pria berkacamata ini mengajar mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan, Kurikulum, SBM 1 dan 2, PPL , Sumber dan Media Pembelajaran, BukuTeks, PerencanaanPembelajaran, Belajar dan Pembelajaran, Inovasi Media Pembelajaran dan Kepramukaan.

Saya setuju dengan pendapat Prof. Dr. H. Abdullah, M.Si yang juga Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sumatera Utara bahwa, “Pendidikan dapat mengubah nasib seseorang”. [2] Rahmat Sudrajat telah menunjukkannya kepada kita. Ia merasa tidak cukup dengan pendidikan S1 pada jurusan PKn UPI, sehingga kemudian pada tahun 2009 saat UPI membuka jurusan PKn program S2, Rahmat tanpa pikir panjang memutuskan mengambil program S2. Alhamdulillah, S2-nya dapat ia selesaikan pada tahun 2012. Kembali, saat kuliah S2 semua biaya ditanggungya sendiri tanpa merepotkan orang tuanya serta tetap nyambi berjualan 1 minggu sekali di kaki lima (Gazibu depan Gedung Sate Bandung) sebagai tambahan untuk biaya kuliah S-2.

Di sela kesibukannya aktif dalam berorganisasi. Saat SMA terlibat dalam Paskibra Kota Bandung (1991-1993), Purna Paskibraka Indonesia (1993), Sekbid Organisasi di HMCH (1996-1997), Pembina Paskibra SMA Bina Dharma 2 Bandung (2003-2012), Pembina OSIS SMA Bina Dharma 2 Bandung (2004-2011), Pembina OSIS SMK ICB CintaTeknika (2011-2012) dan kini Pembina RacanaSubiadinata Universitas PGRI Semarang (2014-sekarang).

Adapun pengalaman pendidikan diawali dari SDN Kiaracondong XI Bandung (lulus 1987), SMPN 30 Bandung (lulus 1990), SMAN 16 Bandung (lulus 1993), S-1 UPI Fakultas PIPS Jurusan PMPKN (lulus 2002) dan S-2 UPI Program Studi PKn (lulus 2012). Pria kelahiran 7 April 1975 ini kini tinggal bersama keluarganya di Kota Semarang. Tepatnya di Perum UniversitasPGRI Semarang No. B-6 Rt. 07/05 Jl. Zebra Tengah Kel. Pedurungan Kidul, Kec. Pedurungan, Kota Semarang. Ia merasa enjoy walau harus berdomisili di Semarang yang berarti menjadi wong jowo. Motto hidupnya cukup menarik. “Hidup itu Indah maka bawalah keindahan dalam kehidupan.” Mungkin motto ini pula yang membuat ia senang menjalani kehidupan dimanapun ia berada.

Kami segenap alumni PKn UPI yang tergabung dalam IKA PKN UPI turut bersyukur dan berbahagia. Semoga walau tinggal di Semarang, logat khas sundanya tidak akan pernah luntur.

Pelajaran terbesar yang dapat dipetik adalah bahwa kesuksesan dicapai melalui perjuangan, ketekunan, keuletan dan tak kenal menyerah dengan keadaan. Rahmat Sudrajat telah membuktikannya.

Jadi, selamat untuk kang Rahmat….
***