Memaknai Hari Pahlawan

5 atlet penyandang cacat

Selasa esok, tepatnya 10 November 2015 bangsa Indonesia akan kembali memperingati hari pahlawan. Lantas apa makna hari pahlawan tersebut? Melalui media FB saya mencoba melakukan wawancara dengan beberapa guru. Ada dua hal yang saya ajukan. Pertama, apa sesungguhnya makna hari pahlawa? Kedua, apa yang harus dilakukan para guru dalam dalam memaknai momentum hari pahlawan? Rupanya pandangan dan pendapat dari mereka menarik dikaji. Satu dengan yang lain ada yang memiliki kesamaan dan juga perbedaan. Memperingati hari pahlawan sudah menjadi rutinitas. Kegiatan upacara merupakan kegiatan yang sering digelar. Pemaknaan terhadap hari pahlawan nampaknya belum sepenuhnya diperhatikan para pejabat dan juga masyarakat.

Zahra Haidar, seorang pendidik dan penulis buku pendidikan dan cerita untuk anak berpandangan bahwa hari pahlawan setidaknya dapat mengingatkan kembali pada kita bahwa apa yang kita nikmati saat ini adalah berkat jasa-jasa dan perjuangan orang-orang yang telah berjuang untuk kebaikan di masa lalu. “Kita perlu mendoakan untuk para pahlawan, lakukan introspeksi diri apakah kita sudah menghargai dan meneruskan perjuangan mereka, dan merenungkan kembali jejak apa yang akan kita tinggalkan nanti,” ungkap guru yang pernah menerima penghargaan Satyalencana Pendidikan RI dari Presiden SBY tahun 2012 itu. Masih menurutnya seyogyanya para guru mengajak anak-anak melakukan berbagai kegiatan yang dapat menyadarkan mereka untuk mengenal, menghargai, dan mengidolakan sosok pahlawannya.

Pendapat senada dikemukakan Siwi Ekowati, guru SMPN 1 Kudus yang rajin menulis PTK. Baginya makna hari pahlawan itu berarti menghargai jasa para pahlawan yang telah berjuang untuk negara. Menurutnya bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya. “Kita merdeka karena jasa-jasa para pahlawan. Saya bisa menjadi pegawai dan bebas berekspresi juga atas jasa mereka,” tuturnya. Ia berkeyakinan jika saat ini bangsa kita belum merdeka, mungkin dirnya tidak bisa bebas berkarya seperti sekarang. “Saya bersyukur sudah dibukakan pintu oleh para pahlawan untuk mengisi kemerdekaan ini dengan bekerja secara baik dan bertanggung jawab,” tegas penulis lebih dari 50 judul buku tersebut.

Dalam pandangan Siwi, guru juga seorang pahlawan. Menurutnya tanpa guru, banyak anak bangsa yang tidak bisa bertumbuh dan berkembang dengan baik. “Guru itu seharusnya dapat menjadi pahlawan bangsa dengan cara menjadi teladan bagi anak didik. Anak-anak mungkin saja bukan pendengar yang baik tetapi peniru yang baik. Jika guru sebagai tokoh yang selalu dijumpai anak bisa menjadi contoh maka anak akan meniru tokoh tersebut,” ungkap guru yang aktif menulis PTK dan sedang menempuh S3 tersebut.

momon-sudarmaAdapun Momon Sudarma, guru MAN 2 Kota Bandung yang baru sa menerbitkan buku “Model-model Pembelajaran Geografi” berpendapat bahwa menjadi teladan di kelas, adalah bentuk nyata kepahlawanan seorang guru di dunia modern. Menurutnya guru sebagai tauladan siswa maka ia harus mampu memerankan dirinya sebagai sosok yang digugu dan ditiru.

Peran ini bagi sebagian guru tidak mudah. Namun, menurut alumnus UNPAD ini bagi seseorang yang telah terjun menjadi guru maka tak ada pilihan lain.

****