Meningkatkan Kemampuan Menulis Guru Madrasah

Oleh : Deni Kurniawan As’ari
Tulisan dimuat di Majalah Info Nusantara

Menarik dicermati pernyataan Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Kota Cirebon,  Lukmanul Hakim bahwa kemampuan menulis di kalangan guru madrasah Kota Cirebon masih rendah. Padahal menurutnya, kemampuan menulis bukan hanya bisa menunjang karier guru madrasah, tetapi juga bermanfaat bagi kesehatan (Pikiran Rakyat, 27/2/2014). Pandangan dari pejabat kemenag ini sebenarnya bukan hanya berlaku untuk guru madrasah di lingkungan Kemenag Kota Cirebon namun hampir merata di Indonesia.

Rendahnya kemampuan menulis  juga  menghinggapi guru-guru negeri (PNS) di lingkungan kemdikbud. Sukartono (LPMP Jawa Tengah), dalam sebuah acara seminar nasional menyatakan, bahwa prosentase guru PNS di Jawa Tengah yang berhasil naik pangkat ke golongan IV-B, masih sangat rendah.  Guru  SD (0,20 persen),  guru SMP (2,04 persen), guru SMA (1,65 persen) dan guu SMK (1,46 persen).  Menurutnya, banyaknya jumlah guru yang mentok di golongan IV-A, karena sebagian besar guru masih mengalami kendala dalam mengumpulkan angka kredit pengembangan profesi melalui penulisan karya ilmiah (Sawali : www.sawali.info).

Faktor Penyebab
Ada beberapa faktor yang menyebabkan guru madrasah baik yang sudah berstatus PNS maupun swasta, enggan menulis. Pertama, kesibukan. Banyaknya tugas guru, terutama terkait administrasi pembelajaran, belum lagi jika mendapat tugas tambahan sebagai kepala madrasah, wakil kepala madrasah, wali kelas,  pembimbing ekstrakurikuler dan lainnya, menjadi alasan utama yang sering mengemuka.

Kedua, rutinitas mengajar. Aktifitas mengajar dari pagi hingga siang  bahkan sore hari, terlebih lagi guru yang suka memberi les tambahan, waktunya habis hanya untuk mengajar dan mengajar.

Ketiga, rendahnya motivasi. Ini menjadi faktor lain yang sering menghinggapi para guru madrasah. Selain rendahnya motivasi, juga faktor ‘malas’ yang mengalahkan sebagian mereka.

Keempat, kurangnya sarana pendukung. Dukungan terhadap guru untuk menulis masih sangat kurang, demikian halnya dengan guru madarasah di lingkungan kementerian agama. Berbagai faktor di ataslah, yang menyebabkan guru madrasah kurang memiliki karya dan berkreatifitas dalam dunia kepenulisan.

Urgensi Menulis
Apa urgensi me­nulis? Mengapa guru madrasah harus menulis? Seringkali ini menjadi pertanyaan yang mengemuka dalam berbagai kesempatan.

Banyak hal yang mendasari, mengapa para guru madrasah itu harus menulis. Pertama, tuntutan profesi. UU Guru dan Dosen No 14/2005 pasal 8 menyebutkan, guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Pasal 10 UU Guru dan Dosen tersebut juga menegaskan, kompetensi dimaksud meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Nah, menulis merupakan salah satu kemampuan yang nantinya akan mendukung lahirnya guru yang profesional. Selain itu Berdasarkan Permen PAN RB Nomor 16 tahun 2009 tentang jabatan fungsional guru dan angka kreditnya, seorang guru PNS pada golongn III/b untuk naik pangkat wajib membuat karya tulis ilmiah. Kalau melihat dari ketentuan ini, guru madrasah mau tidak mau dan suka tidak suka harus membekali dirinya  dengan kemampuan menulis. Jika tidak tentu akan sulit untuk naik pangkat dan akan banyak yang berhenti pada golongan III/c atau III/d.

Kedua, manfaat ekonomis. Menulis itu mendatangkan banyak manfaat, baik yang sifatnya moril maupun material. Ada beberapa guru, misalnya, yang berhasil menjuarai lomba karya tulis, sehingga bisa membangun rumah, membeli sepeda motor dan lain sebagainya. Namun yang terpenting dari semua itu adalah, bahwa menulis itu bisa melahirkan kepuasan batin. Karena buah pikiran, ide atau gagasan kita bisa dibaca banyak orang dan semoga akan membawa kemanfaatan.

Peran Kemenag
Peranan kemenag untuk memberdayakan dan meningkatkan mutu pendidikan dari segala aspek, baik manajemen, kurikulum, maupun proses pembelajaran, menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar. Salah satu langkah strategis yang bisa dilakukan kemenag diantaranya dengan memberikan pelatihan kepenulisan bagi guru di lingkungan madrasah.

Training kepenulisan bagi guru di lingkungan kemenag, yang diselenggarakan secara kontinu, bisa menjadi harapan akan munculnya perubahan di lembaga pendidikan di bawah kemenag tersebut.

Selain itu, dengan menggelar lomba karya tulis bagi guru madrasah baik tingkat lokal, regional maupun nasional. Hal lain, menjadikan kemampuan menulis sebagai salah satu syarat yang harus dikuasai dalam perekrutan guru.

Membuat media komunikasi bagi guru madrasah juga bisa menjadi salah satu sarana meningkatkan kemampuan menulis. Selain tentunya, pemberian reward  bagi guru yang berprestasi dalam berbagai event lomba kepenulisan.

Dengan berbagai hal ini, semoga kemampuan menulis para guru madrasah secara nasional, bisa diwujudkan. Semoga.

Tulisan ini tentu tidak menafikan bahwa ada sebagian guru madrasah yang memiliki kemampuan menulis . Salah satu diantaranya  ibu Ariesta Indriawati, S.Pd (guru IPA MTs Negeri Majenang) yang pada tahun 2014 berhasil meraih golongan IV/b dari Kemdikbud RI.  Kesuksesannya didukung dengan kemampuan dirinya dalam menulis, namun guru madrasah seperti Ariesta masih sedikit jumlahnya.

[*]