Sulistiyo, dari Guru SD Menjadi Anggota DPD RI

Oleh : Deni Kurniawan As’ari, S.Pd.
Anggota PGRI dan Mantan Sekjen Dewan Perwakilan Mahasiswa UPI

Sulistiyo, Ketua Umum PGRI terpilih 2013-2018 kembali mencalonkan diri menjadi calon anggota DPD RI. Saat ini mantan Rektor IKIP PGRI Semarang itu masih menjabat anggota DPD RI periode 2009-2014. Rupanya beliau merasa belum cukup menjadi senator Jateng. Banyak hal barangkali yang belum berhasil diperjuangkan terutama di dunia pendidikan. Sehingga mencalonkan kembali menjadi anggota DPD menjadi keputusan yang diambilnya.

Dalam sebuah booklet,  Pak Sulis memiliki program yang akan diperjuangkan. Ada sepuluh point yang tertulis di selebaran yang juga memasang photonya yang keren disertai kalender 2014 tersebut. Kesepuluh program itu meliputi; pertama, mewujudkan otonomi daerah dan kemandirian desa/kelurahan yang menyejahterakan masyarakat. Kedua, memperjuangkan peningkatan kualitas pendidikan, kesejahteraan rakyat, ketiga, memperjuangkan perimbangan keuangan pusat dan daerah yang adil dan menudukung kemajuan pembangunan daerah. Keempat, memperjuangkan terciptanya pemerintahan yang kuat, bersih, berwibawa dan bebas KKN.

Selanjutnya kelima mengembangkan kerukunan hidup antarumat beragama, keenam, memperjuangkan pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya untuk kesejahteraan rakyat. Ketujuh, memperjuangkan terwujudnya guru, dosen dan tenaga kependidikan yang lebih profesional, sejahtera dan terlindungi, kedelapan, memperjuangkan tenaga kesehatan yang lebih profesional, sejahtera dan terlindungi. Kesembilan, memperjuangkan peningkatan kesejahteraan petani, nelayan, pedagang kecil penghapusan outsourcing, peningkatan UMK dan jaminan sosial bagi pekerja dan kesepuluh, memperjuangkan dana khusus desa/kelurahan dan kesejahteraan perangkatnya.

Dari kesepuluh program yang akan diperjuangkan nampak dalam point dua dan tujuh ingin memperjuangkan sektor pendidikan. Point dua berbunyi,”memperjuangkan peningkatan kualitas pendidikan dan kesejahteraan rakyat” dan point tujuh,”memperjuangkan terwujudnya guru, dosen dan tenaga kependidikan yang lebih profesional sejahtera dan terlindungi’. Dari kedua point itu Sulistiyo secara nyata dan tegas ingin berjuang memperbaiki dunia pendidikan yang sampai saat ini masih carut-marut.

Namun, keberadaannya sebagai Ketua Umum PB PGRI—-organisasi yang menaungi para guru terutama guru PNS, menjadi diskursus yang tidak pernah usai. Ada yang pro dan kontra. Pihak yang pro berargumen bahwa perjuangan menata dunia pendidikan dan nasib guru tidak bisa lepas dari dunia politik. Kebijakan mengenai pendidikan dan guru selama ini ditentukan dan dipengaruhi oleh politik kekuasaan. Maka bagi yang pro, pilihan ketua umum nyaleg menjadi alternatif pilihan yang rasional. Karena dengan demikian guru memiliki wakil di parlemen untuk memperjuaangkan kepentingannya. Adapun kelompok yang kontra dengan melihat bahwa PGRI merupakan organisasi profesi, menaungi sebagian besar guru PNS. Implikasi dari Ketua Umum PGRI mencalonkan diri menjadi anggota DPD RI mau tidak mau dan suka tidak suka akan membawa gerbong PGRI dari pusat sampai ranting untuk mensukseskan keterpilihan ketuanya. Hal ini ditengarai sebagai bagian dari politik praktis sedangkan PGRI bukanlah organisasi politik. Salah satu guru yang kontra dan bersuara lantang mengenai ketua PGRI dalam politik praktis disuarakan oleh Johan Wahyudi, S.Pd., M.Pd dalam tulisannya berjudul “Mengapa PGRI Dijadikan Kendaraan Politik?” yang ditulis di blog pribadinya—–Kompasiana

Berkarir dari Guru SD
Terlepas dari pro dan kontra pencalonannya sebagai anggota DPD RI, pria paruh baya yang lahir di Banjarnegara, 12 Februari 1962 itu meniti karir dari bawah. Sejak tahun 1982 sampai 1985 atau tepatnya tiga tahun menjadi guru SD. Kemudian pada tahun 1985-1987 menjadi guru SMP dan SMA dan tahun 1985-1989 mengajar di SMEA/SMK. Adapun karir sebagai dosen IKIP PGRI dimulai tahun 1987 sampai dengan sekarang dan puncaknya pada tahun 2001-2009 dipercaya menjadi Rektor IKIP PGRI Semarang.

Karir kepegawaian Ketua Umum PGRI dua periode itu cukup menarik. Beliau sudah merasakan betul bagaimana menjadi guru dari SD sampai menjadi seorang rektor. Pengalaman tersebut tentu akan sangat bemanfaat saat berjibaku dalam memperjuangkan kepentingan dunia pendidikan di parlemen.

Debut organisasinya tidak diragukan dan menjadi bekal berharga. Diantara organisasi yang digelutinya adalah Ketua Senat Mahasiswa IKIP Semarang (1983-1985), Pengurus DPD KNPI Jawa Tengah (1996-1999), Pengurus PGRI Jawa Tengah (1994-1999, 1999-2004, 2004-2009), Ketua DPP AMII (2004-2009), Ketua Umum Pengurus Pusat asosiasi LPTK (FKIP, IKIP, STKIP) Swasta Indonesia (2006-2011, 2011-2016), Ketua MPO Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (2012-2017), Anggota Konsorsium Sertifikasi Guru Tingkat Nasional (2007-2008, 2013-2015) dan Ketua Umum PB PGRI dua periode 2008-2013 dan pada Kongres PGRI ke-21 di Jakarta, 1-5 Juli 2013 lalu secara aklamasi kembali ditetapkan menjadi Ketua Umum PGRI periode 2013-2018. Kongres itu dihadiri oleh 8.000 guru yang datang dari kabupaten dan kota di 33 provinsi se-Indonesia.

Sumber photo :
1. Booklet Dr. Sulistiyo, M.Pd.
2. www.presidenri.go.id