Mendua Karena “Ngamen” jam

Kebijakan kemendikbud bahwa guru yang telah bersertifikasi harus mengajar minimal 24 jam berimbas kepada sebagian guru yang musti ngamen jam demi terpenuhinya jumlah jam. Saya termasuk yang harus mengalami hal tersebut. Terhitung sejak bulan September saya mengajar di dua MTs. Pertama, sekolah induk yakni MTsn Majenang, di mana saya mengajar selama ini. Kedua, MTs GUPPI Wanareja untuk menambah kekurangan jam. Jarak tempuh dari rumah ke MTs GUPPI tidaklah dekat. Butuh waktu sekira 0,5 jam dan PP menghabiskan 1 jam.

Akibatnya saya harus ketiban mengajar di dua sekolah itu sebanyak 40 jam/minggu. Berat pasti tapi gimana lagi. Rupanya saya harus menjalani dengan tetap enjoy dan semnangat. Kalau sebelumnya saya hanya mengajar di MTs N Majenang sebanyak 30 jam/minggu dengan rincian PKn 14 jam dan BI 16 jam maka sekarang ditambah PKn di MTs GUPPI sebanyak 10 jam. Kenapa saya melakukan itu semua? Jawabannya untuk memenuhi ketentuan bahwa minimal mengajar harus 24 jam untuk maple yang sesuai sertifikat. Kebijakan ini menurut saya ada sisi positif dan sekaligus negatifnya. Saya sebagai guru hanya bisa pasrah dan menjalankan tugas semata. Saya bersyukur di kala masih kekuarangan jam PKn ternyata ada MTs yang mau menerima saya untuk mengajar.

Kekurangan jam banyak dijumpai pada guru mapel PKn dan Penjaskes karena jatah perminggu hanya dua jam. Sebagian guru PKn ada yang berhasil keluar dari problem ini dengan dimilikinya sertifikat sebagai kepala perpustakaan yang dinilai 12 jam. Saya pun lagi mengupayakan untuk menngikuti diklat perpustakaan agar ke depan tidak perlu ngamen jam lagi ke sekolah lain.
Kelemahan Ngamen Jam

Ngamen jam tetap saja banyak minusnya ketimbang plusnya. Berdasarkan pengalaman ada tiga hal yang perlu dikaji. Satu, mendua karena ada dua lembaga otomatis ada dua pimpinan dan dua kebijakan. Dua, lebih capek dan berat. Mengingat jarak tempuh sekolah cukup jauh maka terasa lebih capek. Energi yang dikeluarkan lebih banyak ketimbang hanya mengajar di satu sekolah. Tiga, kadang tidak maksimal dalam jadwal. Adakalanya jadwal tidak pas, sehingga kadang benturan atau ada waktu yang terbuang terutama jarak tempuh antara sekolah satu dengan sekolah kedua butuh waktu.

Semoga kebijakan pemerintah dalam hal ini kemendikbud lebih bijaksana terkait kewajiban mengajar 24 jam bagi guru mapel yang memang perminggunya sangat kurang. Kalau pun tidak, maka solusi lain yang ditunggu guru seperti saya.