Hari Kartini, Antara Emansipasi dan Kebabblasan Dalam Memilih Pekerjaan

Saturday, 21 April 2012 (03:27) | 1,005 views

Hari ini, 21 April diperingati sebagai hari Kartini. Bagi kaum wanita hari ini dapat menjadi momentum untuk kembali meneguhkan jati diri sebagai wanita sejati. Tak dimungkiri bahwa eksistensi wanita pada masa penjajahan nyaris tak berdaya. Kesehariannya hanya berkutat di dapur, sumur dan kasur. Kini realitas menunjukkan kebalikannya. Banyak sudah wanita yang menikmati keberadaannya sebagai makhluk yang memiliki kebebasan, harkat dan martabat seperti halnya kaum lelaki. Boleh jadi semua itu salah satu bentuk keberhasilan dari perjuangan Kartini masa silam.

Dalam Wikipedia.org diungkapkan bagaimana perjuangan dan pemikiran Kartini. Salah satunya lewat surat-surat yang beliau tulis. Simak penjelasan dalam Wikipedia berikut ini:

Surat-surat Kartini berisi harapannya untuk memperoleh pertolongan dari luar. Pada perkenalan dengan Estelle “Stella” Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.

Pandangan-pandangan kritis lain yang diungkapkan Kartini dalam surat-suratnya adalah kritik terhadap agamanya. Ia mempertanyakan mengapa kitab suci harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk dipahami. Ia mengungkapkan tentang pandangan bahwa dunia akan lebih damai jika tidak ada agama yang sering menjadi alasan manusia untuk berselisih, terpisah, dan saling menyakiti. “…Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu…” Kartini mempertanyakan tentang agama yang dijadikan pembenaran bagi kaum laki-laki untuk berpoligami. Bagi Kartini, lengkap sudah penderitaan perempuan Jawa yang dunianya hanya sebatas tembok rumah.

Surat-surat Kartini banyak mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju. Meski memiliki seorang ayah yang tergolong maju karena telah menyekolahkan anak-anak perempuannya meski hanya sampai umur 12 tahun, tetap saja pintu untuk ke sana tertutup. Kartini sangat mencintai sang ayah, namun ternyata cinta kasih terhadap sang ayah tersebut juga pada akhirnya menjadi kendala besar dalam mewujudkan cita-cita. Sang ayah dalam surat juga diungkapkan begitu mengasihi Kartini. Ia disebutkan akhirnya mengizinkan Kartini untuk belajar menjadi guru di Betawi, meski sebelumnya tak mengizinkan Kartini untuk melanjutkan studi ke Belanda ataupun untuk masuk sekolah kedokteran di Betawi.

Surat-surat Kartini tersebut kemudian dibukukan: “Habis Gelap Terbitlah Terang” diterbitkan Balai Pustaka. Buku tersebut merupakan kumpulan surat-surat berbahasa Belanda milik Kartini kepada sahabat-sahabatnya di Belanda. Di antaranya, Nona Estelle H. Zeehandelaar, Tuan E.C. Abendanon, Ny M.C.E. Ovink-Soer (asisten residen Jepara kala itu), Tuan H.H. van Kol, dan Ny H.G. de Booij-Boisevain.

Kini setelah puluhan tahun pasca kepergian Kartini, di negeri ini telah pernah wanita menjadi presiden, gubernur, walikota/bupati, camat hingga kepala desa dan ketua RT/RW. Bahkan yang menarik ada sebagian kaum wanita yang kebabblasan menjadi sopir bis, tukang ojek hingga tukang becak.

Fenomena ini menarik untuk dicermati. Apakah semua itu merupakan sesuatu yang dulu diharapkan oleh Kartini saat memperjuangkan emansipasi wanita? Jawabannya bisa ya, dan bisa tidak. Mungkin hanya Kartini sendiri yang paham akan hal itu.

Sejatinya wanita tetap harus berada di jalur kodratnya. Jangan sampai emansipasi wanita menjadikan mereka kehilangan pegangan dalam memilih pekerjaan. Wanita tetap saja sosok yang memiliki kelebihan plus kekurangannya. Sepertinya masih belum pas ketika ada sebagian kecil kaum hawa memilih profesi sebagai tukang becak. Mungkin pendapat ini subjektif dan masih perlu didiskusikan lebih lanjut. Namun, bagaimanapun fitrah dan kodrat wanita perlu dijunjung tinggi sebagai bentuk penghormatan kepada kaum yang dikenal sebagai tiang negara itu.

Tulisan lain yang berkaitan:

Tidak ada tulisan lain yang berkaitan!