Ayah, Guru dan Inspirasiku

Ayah. Dalam beberapa bulan belakangan ini menghinggapi relung hatiku. Sosok satu ini tidak bisa lepas dari hidup dan kehidupanku. Darinya, aku belajar banyak hal. Tanggung jawab, dedikasi, kemampuan manajerial, kerja keras, kedisiplinan dan tentu saja semangat spritualitas. Aku tidak bisa membayangkan akan bagaimana perjalanan hidupku tanpa dia.  Ayah bagiku guruku. Bukan karena beliau berprofesi sebagai guru—atau saat ini kasek, tetapi banyak hal yang dapat aku timba dari ayahku. Selain itu, beliau juga inspirasiku untuk terus berjuang dan berjuang menapaki ‘takdir’ kehidupanku saat ini dan ke depan nanti. Bagiku ayah segalanya.

Seperti halnya dengan yang lain, komunikasiku dengan ayah tidak selamanya seiring sejalan. Adakalanya terjadi misunderstanding tentang sesuatu hal. Di kali lain begitu dekat—bahkan sangat dekat layaknya seorang ayah dan anak. Barangkali ada beberapa prinsip hidupnya yang sampai kini aku belum mampu mengikutinya. Bukan tidak bisa, tapi mungkin butuh waktu dan proses.

Dimataku, ayahku sangat hebat. Sebagai lelaki yang memiliki tangggungjawab tidak ringan——dengan enam anaknya—–beliau mampu menunjukkan rasa tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga. Ada sisi kekurangan dan kelemahan dalam dirinya dan itu sangat wajar terjadi sebagai manusia biasa. Karena manusia tak ada yang sempurna. Ayahku tetap punya kelebihan tersendiri dimataku dan kuyakin dimata beberapa orang di sekitarku yang mengenal beliau secara dekat.

Saat kecil, darinya aku belajar membaca dengan menggunakan bekas bungkus rokok yang ditulisi huruf dengan menarik dan indah. Saat besar pun, aku diajari dengan nilai-nilai dan prinsip yang selayaknya aku jadikan patokan dalam menyusuri kehidupan yang fana ini.

Dua tahun lagi, beliau akan memasuki masa pensiun. Usianya tentu tidak lagi muda bahkan sudah mau menjelang 60 tahun. Kondisi fisik dan pikirnya sudah mulai melemah. Beliau sudah ingin mulai tidak memikirkan lagi hal-hal yang terlampau berat. Bahkan untuk memikirkan kemajuan sekolah yang dipimpinnya pun sudah mulai berkurang. Berbeda dengan saat muda dulu. Beliau begitu aktif dan mendedikasikan waktunya untuk kemajuan sekolah. Dalam sms terakhirnya beliau mengabarkan bahwa sudah mulai ingin menikmati masa tua dengan tenang, sembari lebih mendekatkan diri dengan yang maha kuasa.

Ayah, aku berdo’a semoga jerih payah yang telah ayah lakukan selama ini untukku dan keluarga mendapat balasan setimpal dari Allah SWT. Semoga dengan kebaikanmu Allah SWT mengampuni segala kesalahanmu, melimpahi keberkahan dalam sisa hidupmu dan senantiasa diberi kebahagiaan lahir dan batin.

Allahummaghfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani saghira
Ya Tuhan kami,ampunilah segala dosaku dan dosa kedua ibu bapaku serta kasihanilah ibu bapaku sebagaimana mereka mengasihaniku sewaktu masa kecilku.
Amin.

TITIP RINDU BUAT AYAH
by: Ebiet G. Ade

Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
Kau nampak tua dan lelah
keringat mengucur deras
namun kau tetap tabah
Meski nafasmu kadang tersengal
memikul beban yang makin sarat
kau tetap bertahan

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar
legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk
Namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap setia

Ayah, dalam hening sepi kurindu
untuk menuai padi milik kita
Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anakmu sekarang banyak menanggung beban

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar
legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk
Namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap setia

AYAH
by: Broery Marantika

Dimana….akan ku cari
Aku menangis seorang diri
Hatiku ingin slalu bertemu
Untukmu aku bernyanyi
Untuk ayah tercinta, aku ingin bernyanyi
Walau air mata di pipiku….
Ayah dengarkanlah, aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpi…..

Lihatlah… hari berganti
Namun tiada seindah dahulu
Datanglah aku ingin bertemu
Untukmu aku bernyanyi
Untuk ayah tercinta, aku ingin bernyanyi
Walau air mata di pipiku….
Ayah dengarkanlah, aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpi…..

Datanglah aku ingin bertemu
Untukmu aku bernyanyi
Untuk ayah tercinta, aku ingin bernyanyi
Walau air mata di pipiku….
Ayah dengarkanlah, aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpi…..