PGRI dan Fenomena Maraknya Organisasi Guru

penadeni.com|Angin reformasi 1998—-13 tahun silam—-berhembus kencang ke semua lini. Tidak hanya dunia politik yang terkena dampaknya, dengan menjamurnya partai paolitik, akan tetapi juga berimbas kepada dunia pendidikan termasuk organisasi guru. Kalau dulu para guru diwadahi oleh organisasi PGRI. Maka kini bak cendawan di musim penghujan bermunculan organisasi yang mengatasnamakan guru.

Fenomena lahirnya pelbagai wadah guru itu tidak lepas dari payung hukum yang manaunginya. UU Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005 pada bagian kesembilan tentang Organisasi Profesi dan Kode Etik pasal 41 berbunyi : (1) Guru dapat membentuk organisasi profesi yang bersifat independen, (2) Organisasi profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berfungsi untuk memajukan profesi, meningkatkan kompetensi, karier, wawasan kependidikan, perlindungan profesi, kesejahteraan, dan pengabdian kepada masyarakat. (3) guru wajib menjadi anggota suatu organisasi profesi. (4) Pembentukan organisasi profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (5) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dapat memfasilitasi organisasi profesi guru dalam pelaksanaan pembinaan dan pengembangan profesi guru. Selanjutnya pada pasal 42 ditegaskan organisasi profesi guru mempunyai kewenangan: a) menetapkan dan menegakkan kode etik guru; b) memberikan bantuan hukum kepada guru; c) memberikan perlindungan profesi kepada guru yang menjadi anggota;d) melakukan pembinaan dan pengembangan profesi guru yang menjadi anggota; dan e) memajukan pendidikan nasional.

Nah, jelas sudah bahwa aturan itu membolehkan para guru untuk membentuk dan mengikuti organisasi guru apa saja. Tidak ada satu kalimat pun yang mengharuskan guru untuk menjadi anggota organisasi profesi tertentu, terutama PGRI yang selama ini telah hadir dan berkiprah lama —-PGRI lahir pada 25 November 1945—-. Dalam implementasinya, saya pun melihat bahwa pemerintah —dalam hal ini kemdiknas— memberi ruang yang sangat luas kepada para guru untuk membentuk organisasi baru. Contohnya yang terkini dihadirinya kongres IGI oleh mendiknas dan pembentukan FSGI yang dibuka wamendiknas.

Dari Organisasi Guru Lokal Hingga Nasional
Sepengetahuan saya, ada lebih dari tiga puluh organisasi guru yang ada saat ini. Memang, ada yang betul-betul eksis dan ada pula yang hanya sekedar papan nama. Organisasi guru yang dimaksud adalah organisasi yang menggunakan kata guru, beranggotakan guru dan memiliki tujuan meningkatkan profesi dan kesejahteraan para guru.

1. Forum Interaksi Guru Banyumas (Figurmas)
2. Asosiasi Guru Nangroe Aceh Darrusalam (Asgu-NAD)
3. Ikatan Guru Honorer Indonesia (IGHI) Padang-Sumbar
4. Forum Martabat Guru Indonesia (FMGI) Lampung
5. Jakarta Teachers Club (JTC)-Jakarta
6. Forum Aspirasi guru Independen (FAGI) Kota Bandung
7. Forum Aspirasi guru Independen (FAGI) Kabupaten Bandung
8. Forum Aspirasi guru Independen (FAGI) Subang
9. Forum Aspirasi guru Independen (FAGI) Purwakarta
10. Forum Aspirasi guru Independen (FAGI) Sumedang
11. Forum Komunikasi Guru Tangerang (FKG)
12. Forum Guru-Guru Garut (FOGGAR)
13. Forum Guru Tasikmalaya (FGT)
14. Solidaritas Guru Semarang (Sogus)
15. Forum Komunikasi Guru Kota Malang (Fokus Guru)
16. Perhimpunan Guru Tidak Tetap (PGTTI) Kediri
17. Aliansi Guru Nasional Indonesia (AGNI) Jawa Timur
18. Perhimpunan Guru Mahardika Indonesia (PGMI)-Lombok
19. Forum Guru Honorer Indonesia (FGHI) Jakarta

20. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI)
21.Asosiasi Guru Sains Indonesia (AGSI)
22. Asosiasi Guru Ekonomi Indonesia (AGEI)
23. Asosiasi Guru Otomotif Indonesia (AGTOI)
24. Asosiasi Guru Matematika Indonesia (AGMI)
25. Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGMI)
26. Asosiasi Guru PENULIS Indonesia (AGUPENA)
27. Persaudaraan Guru Sejahtera Indonesia (PGSI)
28. Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU)
29. Persatuan Guru Honor Indonesia (PGHI)
30. Federasi Guru Independen Indonesia (FGII)
31. Persatuan Guru Swasta Indonesia (PGSI)
32. Persatuan Guru Madrasah Indonesia (PGMI)
33. Ikatan Guru Indonesia (IGI)
34. Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI)
35. Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI)

Apakah dengan maraknya organisasi tersebut menunjukkan bahwa PGRI selama ini kurang berperan? Maka di sini ada dua kemungkinan jawaban. Bisa ya, bisa tidak. Pertama, munculnya perbagai organisasi itu bisa jadi sebagai indikasi karena melihat PGRI selama ini kurang optimal dalam memerankan dirinya sebagai organisasi yang menaungi para guru. PGRI dinilai masih belum fokus dalam meningkatkan mutu dan kualitas para guru. PGRI masih bergerak di tataran politis kebijakan, di mana para elite-nya banyak yang menjadi anggota DPD dan pejabat. Ada semacam keprihatinan dari sebagian para guru terhadap kinerja PGRI yang ditengarai belum optimal. Sehingga kemudian mereka membentuk organisasi sendiri. Apalagi pemerintah memang memberi peluang dan kesempatan yang luas untuk hal itu.

Kedua, jawabannya tidak. Mengingat PGRI selama ini telah banyak berkiprah untuk membenahi dan memperjuangkan kepentingan para guru. Bentuk riil yang berhasil ditelorkan PGRI diantaranya berjuang untuk mengalokasikan anggaran pendidikan 20 persen, UU Guru dan Dosen, Program Sertifikasi Guru dalam Jabatan, PP Tentang Guru, Kesejahteraan Guru dan Peningkatan Profesi Guru. Semua itu merupakan investasi besar PGRI untuk para guru. Hanya saja, persoalan guru dan pendidikan sedemikian kompleks sehingga PGRI rupanya belum mampu memerankan semuanya secara optimal.

Perlunya Bersinergi

Akhirnya memiliki organisasi tunggal dalam wadah PGRI sepertinya sudah tidak mungkin karena aturan main (rule of the game) mendorong guru memiliki banyak organisasi. Mungkin yan gperlu dilakukan semua organisasi guru yang ada yaitu saling bekerjasama dan bersinergi untuk mewujudkan guru Indonesia yang bermartabat, berkualitas dan terlindungi. Janganlah organisasi guru itu jalan masing-masing dan hanya ingin menunjukkan ego organisasinya karena akan semakin membuat posisi guru lemah dan tercerai berai. Bahkan bisa terjadi antara satu dengan yang lainnya saling menjatuhkan. Terus terang saya sangat prihatin beberapa bulan belakang ini ketika fenomena yang ada menunjukkan keadaan yang terakhir. Organisasi guru satu seolah ingin menjatuhkan organisasi lain. Merasa organisasinya yang paling hebat dan eksis.

Semisal saya membaca berita
1. di sini
2. di sini
3. di sini
4. di sini
5. di sini

Lantas, bagaimana kalau sudah begini? Saya kira pemerintah memang ikut bertanggungjawab dengan munculnya banyak organisasi guru seperti sekarang ini yang tercerai berai. Akan tetapi menyalahkan pemerintah juga tidak bijak dan tidak menyelesaikan persoalan. Memimpikan hanya ada satu oraganisasi yang menaungi semua guru pun sepertinya imposible —seperti pungguk yang merindukan bulan—.

Saya sempat berkomunikasi dengan Ketua Umum PGRI, Bapak Dr. Sulistiyo, M.Pd melalui ponsel beberapa hari lalu ketika saya tanyakan bagaimana komentar bapak tentang beberapa tokoh dan pihak tertentu yang terkesan memojokkan posisi PGRI dan mengecilkan peran PGRI selama ini. Maka Pak Sulis mengirim sms sebagai berikut :

“Banyak orang tak paham PGRI dan tak mengerti apa yang dilakukan PGRI, tetapi memberi penilaian terhadap PGRI. Insya Allah PGRI akan tetap eksis meweujudkan guru yang profesional, sejahtera, terlindungi dan bermartabat. PGRI sering difitnah berpolitik (praktis), karena PGRI memang mempunyai kekuatan politik dan bisa berstrategi politik dalam mewujudkan cita-citanya untuk kepentingan guru dan pendidikan. Banyak orang yang ingin PGRI lemah, guru lemah dipecah belah agar kalah dan pendidikan semakin terpuruk. PGRI sudah sangat biasa digembosi, tetapi insya Allah akan semakin disayangi para guru dan masyarakat“.

Ah, saya hanya berharap bahwa para elite organisasi guru dapat membangun sinergi yang indah demi guru dan dunia pendidikan Indonesia yang lebih baik. Semoga!