Workshop Sehari NULIS NOVEL Bersama H. AHMAD TOHARI

1. RASIONAL
Bahwa sastra ikut mewarnai kehidupan manusia, sudah sejak lama diakui dunia. Banyak pengarang atau sastrawan dengan karya-karyanya menjadi salah satu simbol peradaban manusia pada jamannya. Sebut saja Sophocles dari Yunani Kuno, karya-karyanya sampai detik ini diakui sebagai karya-karya yang memberikan dasar bagi perkembangan sastra (drama) modern. Begitu pula Shakespeare dari Inggris, hampir semua karyanya, puisi maupun drama, selalu saja masih disebut bilamana orang berbicara tentang sastra dunia. Dari Indonesia, kita juga memiliki nama pujangga-pujangga besar, sebut saja Mpu Sedah, Mpu Kanwa, Mpu Panuluh, Ronggowarsito, pada jaman kerajaan-kerajaan di tanah Jawa. Mereka adalah juga peletak dasar bangunan sastra Indonesia masa kini.

Dari karya-karya sastrawan pada masanya itu, kita bisa membaca dan memahami, memperoleh gambaran, bagaimana kondisi psiko-sosial masyarakat. Pada dasarnya, karya sastra merupakan cermin yang memantulkan gambar pengarang dengan berbagai latar belakang psiko-sosialnya. Itulah, dengan membaca karya sastranya, kita bisa mengambil kesimpulan, seperti apa sebenarnya kondisi suatu masyarakat, bahkan bangsa pada jamannya. Dari konsep berpikir, konsep nilai kehidupan, sampai perilaku suatu bangsa, dapat dipahami secara intrinsik melalui karya sastra yang dihasilkannya. Prinsipnya, kita bisa melihat dan memahami budaya suatu bangsa dari karya sastranya.

Dengan pemahaman seperti itu, betapa pentingnya sastra bagi perkembangan suatu bangsa. Ya, sastra berkembang paralel dengan kehidupan. Di mana kehidupan berkembang, di sana sastra juga berkembang. Dunia sastralah yang berperan merekam dan memotret segala ihwal gerak kehidupan suatu bangsa.

Bagaimana dengan kondisi sastra di Indonesia? Dunia sastra di Indonesia belum mampu berkembang dengan baik, karena salah satu alasan yang sering dilontarkan adalah, bangsa Indonesia lebih mengembangkan budaya lisan daripada budaya tulis. Budaya baca bangsa Indonesia juga relatif masih rendah, sehingga jumlah karya sastra yang beredar di tengah-tengah masyarakat pun masih sangat jauh dibandingkan dengan jumlah penduduknya.

Agupena Jateng bersama Komunitas Penulismuda Indonesia adalah sebagian kecil dari komponen bangsa Indonesia yang memiliki visi yang sama, yaitu INDONESIA YANG CERDAS, INDONESIA YANG BERMORAL, INDONESIA YANG BERBUDAYA, melalui misi jangka panjang menuju INDONESIA MENULIS. Ya, dengan Indonesia Menulis, artinya semakin banyak penulis dan pengarang lahir dan eksis, diharapkan Indonesia ke depan berkembang menjadi bangsa yang besar dan terhormat, karena mampu menampilkan diri sebagai bangsa yang cerdas, bangsa yang bermoral, dan bangsa yang berbudaya.

Sepertinya ini ide yang sangat besar, bombas, bagi Agupena dan Komunitas Penulismuda Indonesia. Tidak apa-apa. Think big, start small. Berpikirlah yang besar walau harus dimulai dengan yang kecil. Begitulah, kegiatan WORKSHOP SEHARI NULIS NOVEL BERSAMA AHMAD TOHARI ini, dapat disebut semacam titik awal kecil sebagai pijakan untuk siap berpacu dengan waktu menuju visi dam misi yang besar itu.

Mengapa dipilih Ahmad Tohari? Pertama, Beliau adalah salah satu pengarang (novelis) Indonesia yang sudah diakui eksistensinya sebagai sastrawan kontemporer Indonesia yang memiliki karakteristik lokal sangat kuat. Kedua, Beliau sebagai salah satu Dewan Pembina Agupena Jateng, mestinya akan sangat muspro, sia-sia, bila tidak dimanfaatkan secara maksimal untuk ikut memoles dan mempertajam pena Agupena.

Dengan kegiatan ini, di kalangan Agupena dan Komunitas Penulismuda Indonesia diharapkan semakin muncul gairah untuk mengembangkan penulisan cerita fiksi, seperti cerpen dan novel, sebagai sarana mengembangkan budaya baca dan tulis, paling tidak, di kalangan komunitasnya.

2. TEMPAT DAN WAKTU PELAKSANAAN
Tempat: Bengkel Sastra Novelis H. Ahmad Tohari
Alamat: Desa Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas.
Waktu : Hari Ahad, 17 Juli 2011
Pukul : 08:00 – 16:00 WIB

3. PESERTA
– Dibatasi hanya 20 orang pendaftar (jika sudah terpenuhi akan ditutup)
– Peserta adalah anggota Agupena Jateng dan Komunitas Penulismuda Indonesia yang tertarik untuk belajar menulis cerita fiksi.Karena ini kegiatan belajar menulis, setiap peserta harus membawa alat tulis (komputer-laptop/notebook) sendiri.

4. BIAYA
Kontribusi untuk peserta: Rp. 100.000,- per orang (untuk narasumber, sertifikat, coffe break, makan siang dan materi)

6. PENDAFTARAN PESERTA
Peserta yang berminat, khusus anggota Agupena Jateng
SMS dengan mengetik nama lengkap dan gelar spasi asal instansi spasi workhop novel spasi OK ke 081 706 00305 sebelum tanggal 10 Juli 2011 (Sewaktu-waktu ditutup bila terpenuhi kuota)

7. LAIN-LAIN
Hal-hal lain yang belum tercantum dalam proposal ini dan ternyata kemudian diperlukan dalam penyelenggaraan dapat ditambahkan atau disusulkan sesuai dengan kebutuhan.

By : AGP Jateng and Komunitas Penulismuda Indonesia