Mengenal Mahasiswa dan Kiprahnya

Penulis : Deni Kurniawan As’ari, S.Pd. M.Pd.
Mantan Sekjen Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) periode 1999-2000

penadeni.com | Membahas mahasiswa berarti mengupas sebagian anggota masyarakat yang beruntung. Mengapa? Karena mereka termasuk golongan masyarakat terdidik, yang dapat merasakan ‘indahnya’ bangku kuliah di perguruan tinggi yang biayanya selangit, terutama pasca kebijakan menjadi BHP.[1]

Menurut Menteri Pendi­dikan Nasional, Mu­ham­mad Nuh, APK di perguruan tinggi saat ini cuma mencapai 23 persen. Itu artinya jumlah anak berusia 19-23 tahun yang melanjutkan ke perguruan tinggi hanya 23 persen. Sisanya 77 persen belum punya kesempatan untuk masuk ke perguruan ting­gi.[2]

Hanya mereka yang memiliki kemampuan, baik intelektual dan terutama finansial yang dapat menjadi mahasiswa. Sehingga, ada semacam kebanggaan tersendiri sekaligus amanah bagi mereka yang berstatus mahasiswa. Terlepas, setelah selesai kuliah mau jadi apa? Karena realitanya kebanyakan mereka menjadi pengangguran terdidik di negeri yang rakyatnya mendekati angka 250 juta itu.

Mahasiswa dapat dikatakan sebagai kelompok generasi muda yang sedang belajar atau menuntut ilmu di perguruan tinggi dengan mengambil jurusan/program studi tertentu.  Wikipedia menyebutnya sebagai panggilan untuk orang yang sedang menjalani pendidikan tinggi di sebuah universitas atau perguruan tinggi.[3] Aktivitas mereka adalah belajar dalam arti yang seluas-luasnya. Belajar ilmu pengetahuan, berorganisasi, dan belajar menjadi pemimpin. Kelompok ini menyandang sejumlah atribut diantaranya sebagai kelompok inti pemuda, kelompok cendekia, calon pemimpin masa depan atau ada pula yang menyebutnya kelompok idealis dan kritis. Sesungguhnya, di pundak mahasiswalah sebagian besar nasib masa depan suatu bangsa dipertaruhkan.

Peran Mahasiswa

Peran mahasiswa sungguh strategis. Eksistensinya sangat diperhitungkan dalam kehidupan masyarakat suatu negara. Kelompok ini menjadi semacam creative minority [4]yang ikut mempengaruhi arah kehidupan sosial politik bangsa. Setidaknya ada dua peran penting yang dimainkan oleh mahasiswa. Pertama, sebagai agent of change dan kedua, agent of sosio control.

Peran yang pertama ini —-agent of change menjadikan mereka sebagai kelompok yang senantiasa berusaha memperjuangkan perubahan dan pembaharuan dalam lingkungannya. Baik skala kecil —kampus di mana mereka berada bahkan kehidupan sosial politik masyarakat, bangsa dan Negara.

Ketika kehidupan kemasyarakatan mengalami ketimpangan. Di saat ketidakadilan merajalela, otoriterisme, diskriminatif dan antidemokrasi, maka disitulah mahasiswa berjuang untuk melakukan perubahan dan perbaikan. Contoh yang sangat nyata adalah aksi mahasiswa yang berhasil menumbangkan rezim orde lama pada 1966 melalui wadah KAMI/KAPPI.[5] Atau yang terakhir ketika kekuatan mahasiswa bersama elemen bangsa lainnya berhasil dengan sukses menjatuhkan rezim orde baru yang refresif pada 1998. Peran mahasiswa sebagai agent of change begitu melekat dalam kedua aksi tersebut.

Peran yang lain yakni sebagai agent sosio of control. Melalui peran ini mereka berupaya untuk melakukan pengawasan terhadap rezim yang sedang berkuasa dalam tingkatan manapun untuk senantiasa berada di track yang benar. Ketika kekuasaan hanya dijadikan sebagai alat memperkaya diri atau menyengsarakan rakyat dengan KKN —-korupsi, kolusi dan nepotisme, maka mahasiswa bergerak. Mereka tampil dan berusaha untuk mencegah serta mengingatkan pihak penguasa. Agent of sosio control menjadikan mereka menjadi semacam wasit yang bertugas untuk mengantisipasi dan menghindari terjadinya kecurangan dan penghianatan dari para penguasa yang memiliki kecenderungan untuk menyimpang (power attend to corrupt).

Sesungguhnya kedua peran tersebut begitu berarti dalam mewujudkan kehidupan kebangsaan yang dicita-citakan bersama. Kedua peran itu harus senantiasa dijalankan mahasiswa. Peran sebagai agent of change dan agent of sosio control sangat mungkin dilakukan mahasiswa karena eksistensinya sebagai kelompok yang relatif independen dan masih bebas dari segala vested interest.

Kategori Mahasiswa
Dari uraian di atas menunjukkan, bahwa peran mahasiswa selain belajar menuntut ilmu atau berkutat dengan mata kuliah diharapkan mampu memerankan fungsi sosial yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat, bangsa dan negara. Pertanyaannya adalah kategori mahasiswa seperti apa atau yang bagaimana yang dapat memerankan hal tersebut?

Kalau dikaji secara mendalam, keberadaan mahasiswa di setiap perguruan tinggi dapat digolongkan dalam 3 (tiga) kategori, yaitu :

1. Kelompok mahasiswa akademikus

Kelompok ini para mahasiswa yang hanya berkutat dengan mata kuliah. Aktivitas utamanya belajar dan mengkaji ilmu tanpa peduli akan lingkungan sekitar atau persoalan kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan. Para mahasiswa jenis ini betul-betul study oriented atau akademik minded dengan target segera cepat lulus dengan menggondol nilai atau IPK terbaik—cum laude dan cepat bekerja. Biasanya kelompok ini dapat dengan mudah dilihat pada kegiatannya yang hanya berkutat di kampus (tempat kuliah) dan tempat tinggal/rumah kost. Selebihnya nyaris tidak ada kegiatan. Mungkin sesekali berkunjung ke toko buku dan perpustakaan untuk mencari literatur atau belanja dan mejeng.

Kalau diamati, barangkali kelompok inilah yang jumlahnya paling banyak dan mendominasi di hampir setiap perguruan tinggi. Rupanya, sistem pendidikan pun menghendaki kelompok yang demikian terutama pasca diberlakukannya NKK/BKK dan sistem SKS—sistem kredit semester. Sejumlah aktivis mahasiswa menengarai bahwa sistem SKS secara langsung atau tidak, telah menggiring mahasiswa untuk berfikir pragmatis dan kurang mendorong sikap kitis dan idealis pada diri mahasiswa.

2. Kelompok Mahasiswa aktivis

Mahasiswa ini adalah mereka yang sangat aktif bahkan super aktif dalam organisasi. Baik di intra maupun ekstra kampus. Akan tetapi sayang kadang mereka melupakan tugas utamanya untuk belajar. Dapat dikatakan bahwa waktu dan energinya habis terkuras untuk mengurus organisasi, memikirkan kegiatan, rencana aksi dan seabreg aktivitas organisasi lainnya. Akibatnya mereka sering meninggalkan perkuliahan. Hasil belajar mereka —-nilai atau IP sering jeblok. Indeks prestasinya (IP) dikenal dengan istilah nasakom —nasib nilai satu koma.

Biasanya, kelompok ini sering diberi gelar MA—-mahasiswa abadi—-karena waktu kuliahnya yang sangat lama. Kadang dari tujuh hingga sembilan tahun. Bahkan diantaranya ada yang mengalami DO—droup out). Namun, jumlah dari kelompok ini hanya sedikit saja. Jumlahnya sekira 1,5 (satu koma lima) persen di setiap perguruan tingginya. Tapi yang menarik, sebagian diantara mereka justru ada yang sukses setelah terjun dalam kehidupan masyarakat.

3. Kelompok Mahasiswa Sejati

Istilah ini hanya sebutan pribadi saya. Disebut mahasiswa sejati, karena kiprahnya yang seimbang antara menuntut ilmu dan beraktivitas di organisasi. Kelompok ini mampu memenej dirinya untuk meraih sukses pribadi, sukses akademik dan sekaligus sukses organisasi. Waktunya diatur sedemikian rupa agar semua agenda berjalan dengan baik. Biasanya kelompok ini menempati posisi yang cukup penting dalam organisasi kemahasiswaan baik di intra maupun ekstra.

Bagi mereka, belajar di perguruan tinggi bukan hanya sekedar perkuliahan. Akan tetapi belajar berorganisasi dan bermasyarakat. Melalui organisasi diharapkan mendapat pelajaran dan pengalaman berharga untuk mengasah kemampuan dan keterampilan diri terkait dengan manajemen, tanggung jawab, kedisiplinan dan kepemimpinan. Dengan terlibat di masyarakat akan muncul kesadaran mengenai permasalahan lingkungan dan sosial baik dalam skala lokal, regional maupun nasional. Kelompok mahasiswa ini selalu gelisah dan ‘berontak’ ketika melihat ketimpangan dan atau ketidakadilan yang terjadi di depan matanya.

Karena kemampuan manajemennya yang baik, maka kelompok ini biasanya berhasil menyelesaikan studi dalam kurun waktu sekira lima tahun dengan segudang ‘pengalaman’ yang cukup berharga sebagai bekal meniti kehidupan yang sesungguhnya di masyarakat.

Dari ketiga kategori kemlompok mahasiswa tersebut, nampaknya kelompok ketigalah yang diharapkan akan mampu memerankan diri menjadi agent of change dan agent of sosio control. Jumlah mahasiswa dari kelompok ini masih relatif sedikit yaitu sekira lima persen di setiap perguruan tingginya.
Pengertian dan Macam Organisasi Mahasiswa
Secara sederhana organisasi mahasiswa dapat diartikan sebagai wadah atau organisasi, tempat di mana mahasiswa mengembangkan diri, beraktivitas dan menyalurkan minat bakatnya. Dari pengertian ini terkandung makna bahwa organisasi mahasiswa berbeda dengan organisasi lain seperti halnya organisasi politik atau organisasi profesi. Fungsi utama dari organisasi mahasiswa adalah sebagai wadah pembelajaran dan wahana pengembangan diri mahasiswa.
Pada saat ini, dikenal dua macam organisasi mahasiswa yaitu organisasi intra kampus dan organisasi ekstra kampus.

1. Organisasi intra kampus

Maksudnya yaitu organisasi yang berada di dalam kampus, yang ruang lingkup kegiatan dan anggotanya hanya terbatas pada mahasiswa yang ada di kampus tersebut atau sewaktu-waktu melibatkan peserta dari luar. Selanjutnya, organisasi intra terbagi dalam dua bagian, yaitu pertama, berdasarkan ruang lingkupnya yang terdiri dari organisasi tingkat jurusan (ruang lingkupnya satu jurusan), organisasi tingkat fakultas (ruang lingkupnya satu fakultas) dan organisasi tingkat universitas (ruang lingkupnya tingkat universitas). Kedua, organisasi berdasarkan minat dan bakat atau lebih dikenal dengan nama UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) dengan ruang lingkupnya ada yang setingkat fakultas dan yang lebih banyak setingkat universitas. Contoh organisasi yang termasuk UKM diantaranya Unit Kerohanian Islam (tingkat fakultas/universitas), Kelompok Mahasiswa Pencinta Alam, Unit Teater Mahasiswa, Unit Pers dan Jurnalistik, Unit Kegiatan Menwa, Unit Olahraga (Karate, Pencak Silat, Tenis, Sofball) dan unit kegiatan yang lainnya.

2. Organisasi Ekstra Kampus

Organisasi ini merupakan kebalikan dari intra yaitu organisasi yang berada di luar kampus, di mana ruang lingkup dan anggotanya adalah mahasiswa seperguruan tinggi atau lintas perguruan tinggi. Perbedaan lainnya, bahwa organisasi ini bersifat nasional, karena memiliki struktur organisasi di tingkat pusat sebagai pimpinan tertinggi. Berbeda dengan organisasi intra yang anggotanya mahasiswa tingkat diploma dan sarjana (S1), maka untuk organisasi ekstra terutama pimpinan pengurus di tingkat pusat sebagian besar berstatus sebagai mahasiswa S2 atau S3. Organisasi mahasiswa ekstra kampus yang saat ini eksis diantaranya HMI (Dipo dan MPO), PMKRI, IMM, GMNI, GMKI dan KAMMI.

Karakteristik Organisasi Ekstra Kampus

Dibandingkan dengan organisasi intra, ada sejumlah karakteristik yang khas dan agak berbeda yang dimiliki oleh organisasi ekstra kampus atau Ormas Mahasiswa. Sebagian dari karakteristik tersebut adalah :

1. Mandiri dalam keuangan
Dalam menjalankan roda organisasi atau untuk membiayai berbagai kegiatannya, organisasi ekstra dituntut untuk mandiri atau mencari sendiri sumber dananya. Berbeda dengan organisasi intra, di mana sumber keuangan dapat diperoleh dari anggaran perguruan tingginya.
Kenyataan ini menuntut para aktivis ekstra kampus untuk kreatif, berfikir keras dan cerdas dalam rangka memenuhi kebutuhan finansial organisasinya. Roda organisasi atau kegiatan tidak akan berjalan dengan baik tanpa dukungan finansial yang memadai. Sebagian organisasi ekstra ada yang mengandalkan dari iuran wajib anggotanya, sebagian lain “mengemis” kepada alumninya yang telah sukses dan sebagian lain mencari sendiri dengan cara bisnis kecil-kecilan atau pengajuan proposal kepada perusahaan dan atau lembaga tertentu untuk kerjasama. Disinilah ada semacam proses pembelajaran berharga bagaimana caranya menggali dana tersebut.

2. Jaringan lebih luas
Mengingat keanggotaan organisasi ekstra bersifat nasional atau lintas perguruan tinggi, maka hubungan dan jaringan antara anggota menjadi lebih luas. Hal ini merupakan salah satu kelebihan karena nantinya akan menjadi modal dalam meraih sukses ketika sudah terjun di masyarakat. Apalagi hubungan telah dibangun dengan para alumni yang telah mapan dalam bidang pekerjaan atau profesi tertentu. Berbagai peluang untuk mengakses informasi atau kerjasama menjadi lebih terbuka lebar.

3. Membangun ketajaman intelektual
Sering diadakannya kegiatan-kegiatan keilmuan seperti diskusi, seminar, pelatihan atau bedah buku, memungkinkan para anggotanya memiliki wawasan yang luas, kemampuan berfikir baik dan ketajaman intelektualnya terkembangkan serta yang penting lagi memiliki kemampuan analisa dan daya kritis tinggi dalam melihat sebuah persoalan. Sehingga sangat wajar aktivis ekstra banyak yang berhasil menjadi cendekiawan, akademisi, politisi atau pengusaha.

4. Menyiapkan untuk menjadi pemimpin
Yang tidak kalah pentingnya bahwa proses pengkaderan di organisasi ekstra menjadi wahana untuk menyiapkan diri menjadi pemimpin. Baik sebagai pemimpin diri sendiri, pemimpin keluarga, pemimpin organisasi maupun pemimpin masyarakat, bangsa dan Negara. Proses inilah yang dapat dlihat dari banyaknya mantan aktivis ekstra yang berhasil menjadi pemimpin bangsa dan masyarakat.

Semua karakteristik itu tentu saja dapat dirasakan oleh orang yang pernah terjun secara langsung dan serius dalam mengikuti organisasi ekstra atau ormas mahasiswa.


[1] Amich Alhumami, Harian Kompas, 14 Januari 2009, hlm 6.

[2] Rakyat Merdeka, 3 Oktober 2011, hlm 4.

[3] Wikipedia, “Mahasiswa”, Diakses dari  https://id.wikipedia.org/wiki/Mahasiswa, pada tanggal 5 Juni 2010

[4] Eki Baihaki, Eksistensi dan Peran Strategis Pers Mahasiswa, Diakses dari http://ekibaihaki.com/article/87426/eksistensi-dan-peran-strategi-pers-mahasiswa.html, pada tanggal 10 Juli 2011 Pukul 10.00 WIB

[5] Edy Marhaen, Lunturnya Semangat Sumpah Pemuda, Diakses dari http://politik.kompasiana.com/2011/10/27/lunturnya-semangat-sumpah-pemuda-406937.html, pada tanggal 7 Juli 2011 pukul 13.00 WIB