Pelajaran Tersembunyi dari Permainan Sepakbola

Pada hari Rabu-Kamis, 14-15 Juni 2011 kemarin, MTs Negeri Majenang mengadakan turnamen sepakbola mini antar SD/MI se-Eks Distrik Majenang. Kegiatan yang diikuti sekira 25 tim itu digelar dalam rangka memperingati Hardiknas dan ulang tahun MTs Negeri Majenang yang ke-20. Saya yang kebetulan ikut membantu kegiatan tersebut, serasa bernostalgia pada masa kecil dulu di kampung halaman. Saya ingat betul bahwa sepakbola menjadi olahraga yang paling saya gemari. Ayah saya —-H. T.H. Gunawan kepsek SD— yang juga senang bola sempat membelikan sebuah bola pada saya. Kini, setelah 25 tahun berlalu, kenangan itu muncul kembali ketika dua hari kemarin saya menikmati turnamen itu dengan penuh antusias.

Di tengah hiruk pikuk perebutan Ketua Umum PSSI yang belum juga terselesaikan rupanya masyarakat Indonesia termasuk penyenang sepakbola. Tak disangka mulai anak kecil hingga yang telah berusia lanjut pun begitu senang dengan olahraga yang satu ini. Tak salah bila novelis Andrea Hirata meluncurkan novel yang terkait sepakbola dengan judul novel Sebelas Patriot. Novel itu konon berkisah mengenai sebelas anak Belitong —yang sebagian merupakan tokoh Laskar Pelangi, termasuk Ikal— yang kepengin menjadi pemain sepakbola terkenal.

Hikmah Tersembunyi

workshop
kerjasama dan kekompakan
workshop
keras dan siap terbanting jatuh

workshop
Persahabatan
workshop
Pengorbanan demi keberlangsungan permainan

workshop
Sang nenek pun menikmati bola
workshop
ekspresi setelah sukses menggolkan

workshop
Berdo’a dengan khusyu sebelum bertanding
workshop
Luapan kegembiraan setelah berjuang secara total

Setelah dua hari saya puas menikmati pertandingan sepakbola itu, saya termenung betapa dalam pertandingan sepakbola sarat dengan hikmah yang begitu dalam. Setidaknya ada beberap yang dapat direnungkan untuk menjadi pelajaran.

Pertama, stamina pemain sepakbola harus kuat. Ini menggambarkan bahwa dalam menjalani kehidupan kita perlu tenaga, atau kekuatan fisik yang memadai. Bila fisik kita lemah maka kemungkinan kita akan terlempar dalam kehidupan yang keras ini.

Kedua, kerjasama. Dalam sepak bola antarpemain dituntut untuk bekerjasama. Hampir dapat dipastikan bahwa sebuah tim tidak akan dapat berhasil memenangkan suatu pertandingan tanpa adanya kerjasama. Begitu halnya dalam kehidupan untuk meraih kesuksesan tak bisa ditawar untuk mampu bekerjasama. Sehebat apa pun seseorang, kalau tidak mampu bekerjasama maka kemungkinan tidak akan berhasil.

Ketiga, tidak mudah menyerah. Ya, saya menyaksikan betul bagaimana para pemain cilik yang rata-rata berusia 9-12 tahun itu selalu berusaha tanpa kenal menyerah untuk mendapat bola dan menggolkan bola tersebut ke gawang lawan. Hampir semua pemain saya lihat tidak pernah mundur atau menyerah dari lapangan sepakbola sebelum pluit panjang ditiup sang wasit walaupun sedang mengalami kekalahan. Nah, kalau kita sedang berjuang maka tentu tak akan berhenti kecuali azal telah datang.

Ketiga, membiasakan sikap yang sportif. Setiap pemain selalu ditanamkan untuk bermain elegan dan menjunjung tinggi sportivitas yang tinggi. Siap menerima kekalahan, mau memberikan ucapan selamat kepada pemenang. Begitu pula dalam kehidupan keseharian, sepertinya sikap ini perlu terus dibangun di tengah banyaknya elit politik yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.

Keempat, religiusitas tinggi. Saat pertandingan sepakbola akan dimulai sang wasit selalu mengajak para pemain yang akan bertanding untuk memanjatkan do’a ke hadirat Tuhan. Kelima, persaingan yang sehat. Sekeras apa pun usaha para pemain untuk menggolkan ke gawang lawannya, saya melihat bahwa tetap terjaga suatu persaingan yang sehat. Bagaimana dalam kehidupan keseharian ketika persaingan dilakukan dengan saling menjatuhkan dan saling sikut kanan, sikut kiri.

Keenam, penuh persahabatan. Boleh jadi saat pertandingan berlangsung penuh dengan persaingan akan tetapi persahabatan antarpemain sebelum dan setelah pertandingan sungguh sangat nampak. Hal inilah sesuangguhnya yang patut ditradisikan dalam kehidupan bermasayarakat dan bernegara. Boleg beda partai, beda agama, beda ormas akan tetapi tetap bersahabat.

Itulah beberapa hikmah yang sempat terekam setelah menyaksikan turnamen sepakbola kemarin. Setuju atau tidak, permainan sepak bola ternyata memiliki hikmah berharga terutama bagaimana mampu menumbuhkan jiwa besar, siap kalah, siap menang dan terus berjuang selama masih ada kesempatan. Hidup ini penuh dinamika. Adakalanya mendapat kemudahan, di lain waktu mendapati banyak kesulitan. Hidup pun seumpama sebuah bola yang bundar. Terkadang kita berada di atas –sukses– terkadang pula di bawah –gagal– saat sukses diraih jangan sombong dan ketika sedang gagal jangan putus asa atau menyerah.