Hari Ini, Agupena Gelar Muswilub

SEMARANG- Ditariknya Ketua Asosiasi Guru Penulis Seluruh Indonesia (Agupena) Jateng Deni Kurniawan As’ari menjadi Sekum Agupena Pusat, memaksa digelarnya Musyawarah Wilayah Luar Biasa (Muswilub) untuk memilih penggantinya, hari ini (4/7).

Ini dimaksudkan agar roda organisasi tetap berjalan. Pasalnya, pengurus pusat memandang Agupena Jateng memiliki prestasi sejak didirikan 4 Februari 2009 oleh 29 guru penulis se-Jateng atas ide Dirjen PMPTK Kemendiknas saat itu, Fasli Jalal (sekarang Wamendiknas-red). Di antaranya, website yang baru dibuat satu tahun lalu aktif menampung tulisan-tulisan tenaga pendidik dan kependidikan, hingga dibuka 679.609 pengunjung.

Ketua Panitia, Hery Nugroho menerangkan, kegiatan yang berlangsung di SMP 7 Semarang ini, diikuti seluruh pengurus cabang kabupaten/kota se-Jateng. Muswilub diharap bisa terus membangun kerja sama yang sinergis, kolegial, dan kolektif antarguru penulis agar mampu mewujudkan budaya menulis di kalangan guru Jateng. Selain itu, menjadi sebuah organisasi profesi yang solid, bermakna, dan manfaatnya benar-benar dirasakan rekan sejawat.

Kompleks
Ia mengatakan, seiring peradaban global yang makin rumit dan kompetitif, tantangan yang dihadapi dunia pendidikan juga kian rumit dan kompleks. ”Guru yang berada di garda depan dalam dunia pendidikan diharap tak sebatas menjadi ‘’guru kurikulum’’ yang wilayah kerjanya hanya dibatasi empat dinding ruang kelas. Melainkan, mampu menjadi inspiratif yang sanggup merambah sudut-sudut peradaban dunia melalui pemikiran kreatif yang terekspresikan dalam tulisan,” tambahnya.

Melalui tulisan, ujarnya, ranah pemikiran kreatif guru, terabadikan oleh sejarah sehingga bisa terus memberi inspirasi baru yang kreatif dan mencerahkan kepada generasi masa depan. ”Dalam konteks itu, Agupena yang memiliki motto ‘Membangun Semangat Berbagi’, diharap bisa memberi kontribusi nyata dalam merangsang adrenalin dan kreativitas guru dalam membangun budaya menulis,” tutur Guru SMP 7 itu.

Dikatakan, maksud pendirian Agupena awalnya karena lemahnya budaya menulis di kalangan guru. Padahal, menulis merupakan kewajiban bagi guru guna meningkatkan intelektualnya. (hdq-14)

Sumber : Suara Merdeka