Stres dan Fenomena Bunuh Diri

Pada dekade terakhir, kita dikejutkan dengan adanya maraknya bunuh diri. Yang menarik perbuatan tidak terpuji itu tidak hanya dilakukan orang dewasa melainkan juga remaja dan anak-anak. Seperti yang dilansir sebuah media massa, ada seorang siswa SD yang karena tidak mampu membayar uang SPP/uang praktek, maka yang bersangkutan nekad gantung diri dengan seutas tali. Seorang remaja tanggung yang mengalami putus cinta, mengakhiri hidupnya dengan minum baygon. Begitu pun kasus yang sempat menggegerkan jagat kepolisian ketika seorang perwira polisi, dengan kesadaran diri menembakkan pistolnya tepat di batok kepalanya. Bahkan, informasi terbaru seorang dokter, yang juga mantan Kepala Puskesmas, membakar dirinya setelah menyiramkan bensin ke seluruh tubuh, hingga badannya hangus dan tak terkenali lagi.

Rentetan kejadian itu membuat bulu kuduk kita berdiri. Semua orang tahu, bahwa bunuh diri merupakan perbuatan nista dan terkategorikan dosa besar. Pertanyaannya, mengapa hal itu dilakukan? Atau faktor apa yang memicu perbuatan keji tersebut? Jawaban sederhana adalah selain minimnya keimanan, juga karena ketidakmampuan mereka dalam menghadapi masalah atau stres yang menimpanya.

Hakikat Kehidupan
Kita menyadari, bahwa kehidupan di dunia ini akan senantiasa dihadapkan pada masalah demi masalah, selalu bertemu dengan ujian dan tantangan. Siapapun orangnya, tak memandang kaya atau miskin, pejabat atau rakyat, anak-anak, remaja maupun orang dewasa.

Dalam surat Al-Baqarah ayat 157, Allah SWT berfirman yang artinya, ”Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.” Kemudian dalam surat Al Ankabut pada ayat 3 Allah SWT menegaskan, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : ‘ kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi?”

Dari kedua ayat itu nampak jelas bahwa ujian merupakan suatu keniscayaan (sine qua non) bagi manusia. Ujian dalam berbagai bentuk dan macamnya, tentu saja antara yang satu dengan yang lain bisa sama, bisa pula berbeda. Ketika masalah atau ujian yang ada tidak mampu dihadapi dan diselesaikan, memungkinkan munculnya tekanan, rasa cemas dan gelisah bahkan menjadi stres yang berkepanjangan. Ujung-ujungnya mengambil jalan pintas untuk bunuh diri!

Makhluk Apa Stres itu?
Stres merupakan istilah yang cukup familiar dalam telinga kita. Siapapun bisa terkena stres. Biasanya seseorang dikatakan stres apabila kondisi jiwanya mengalami tekanan hebat akibat masalah yang dihadapi. Pengaruh stres sungguh luar biasa, bisa menyebabkan seseorang menjadi kehilangan kendali, nalar dan pikiran sehatnya.

Timbul pertanyaan, apa saja yang bisa menyebabkan seseorang terkena stres yang akhirnya bisa mendorong seseorang melakukan bunuh diri? Ada sejumlah faktor yang diprediksikan menjadi pemicu timbulnya hal tersebut.

Pertama, suasana keluarga kurang harmonis atau tidak kondusif. Keadaan seperti ini bisa menimbulkan tekanan. Misalnya sebuah keluarga yang suami isterinya senang bertengkar bahkan bercerai, anak broken home karena orang tua terlalu sibuk, ayah tidak bijak dan bertanggung jawab. Ataupun orang tua bisa stres ketika anaknya bandel dan tidak sesuai dengan harapan mereka. Serta berbagai persoalan lain yang merusak keharmonisan keluarga.

Kedua, bidang pendidikan dan pekerjaan. Ketegangan bisa pula muncul ketika misalnya seorang siswa tidak naik kelas, belum lulus UMPTN atau droup out dari sekolah. Memiliki pekerjaan seabreg sehingga terasa membebani, bidang pekerjaan tidak sesuai keahlian, sudah memiliki pekerjaan tetapi hasilnya tidak/belum mencukupi atau bahkan sudah lulus sekolah/kuliah masih saja menganggur. Semua itu bisa menyebabkan orang menjadi stres.

Ketiga, didera kemiskinan dan kesulitan hidup. Ketika hidup dibayangi kemiskinan akut, kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga, dililit utang piutang atau berat membayar biaya sekolah yang semakin mahal, merupakan faktor masalah. Ada sebuah hadits yang patut direnungkan bahwa, ‘ kefakiran mendekatkan seseorang pada kekufuran. ‘

Keempat, lingkungan tempat tinggal tidak kondusif. Keberadaan tempat tinggal dapat juga berpengaruh terhadap ketidaknyamanan hidup. Perilaku tetangga sekitar menjengkelkan atau berperilaku buruk, sering timbul percekcokan dan persaingan hidup antar tetangga yang tidak sehat,

Sesungguhnya, masih banyak lagi masalah yang terjadi dalam kehidupan keseharian yang apabila tidak mampu memenej, mengatasi dan menyelesaikan, maka hidup pun menjadi tidak bahagia, resah dan gelisah. Rumah yang megah dan luas tidak bisa dinikmati oleh hati yang gelisah, makanan yang enak dan lezat tidak terasa nikmat ketika batin resah, bahkan jabatan tinggi atau harta melimpah menjadi tiada berarti. Yang ada adalah stres yang terasa begitu membebani.

Lalu, bagaimana cara mensikapi stres agar terhindar dari keinginan bunuh diri? Ada beberapa kiat yang sekiranya patut dilakukan, Pertama, yakini dan sadari sepenuhnya, bahwa hidup di dunia, emang sudah sunnatullah sebagai tempat ujian (arena menghadapi masalah). Yang terpenting bukan masalahnya, akan tetapi bagaimana kita mensikapi, menghadapi dan mencari solusi untuk menyelesaikannya, disertai do’a kepada-Nya. Di samping, kita harus yakin bahwa Allah Swt tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Kedua, ketahui apa yang memicu terjadinya stress. Hal ini penting untuk menentukan dan mencari langkah penanggulangannya. Setelah tahu, hadapilah dengan berusaha mencari jalan keluar. Ungkapkan masalah pada orang yang dipercaya untuk minta bantuan.

Ketiga, selalu bertakarrub kepada Allah Swt. Ini merupakan kunci utama, Upayakan kita terus menerus mendekatkan diri kepada-Nya. Caranya dengan meningkatkan keimanan, taat menjalankan perintahnya dan berusaha menjauhi larangan. Alah SWT berfirman, artinya, ” ketahuilah bahwa orang-orang yang dekat kepada Allah Swt, dirinya tidak akan merasa takut dan tidak akan merasa sedih. ” ( Surat Yunus ayat 62).

Keempat, tawakkal akan takdir Allah SWT. Maksudnya bersikap pasrah pada semua ketetapan Allah Swt sepahit apap pun. Contoh ketika siswa tidak lulus UMPTN maka tidak perlu sedih berkepanjangan. Yakini bahwa peristiwa itu akan memberi kebaikan pada dirinya. Mungkin saat ujian itu terjadi belum mengetahuinya. Sikap tawakkal ini dengan tidak melupakan usaha dan berjuang sungguh-sungguh untuk mengatasi segala permasalahan.

Kelima, kembangkan kesiapan mental untuk menghadapi kenyataan. Maksudnya bagaimana? Kita harus sadar bahwa hidup adalah sebagaimana yang dialami. Kadang kenyataan yang ada sesuai dengan yang kita inginkan, kadang-kadang atau bahkan sering tidak sesuai dengan yang diharapkan. Maka, hati kita harus senantiasa siap dan ridlo untuk menghadapi kepahitan, kesulitan dan kejadian tidak terduga, karena memang bagian dari kehidupan. Resiko, bagi orang yang tidak siap akan menjadi tekanan batin, dan menimbulkan kecemasan. Untuk memiliki kesiapan dankeridloan itu perlu terus menggali ilmu, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan hidup (life skill) .

Keenam, tidak iri hati dan menjauhi sifat dengki. Iri hari adalah keinginan mendapatkan kenikmatan seperti yang diperoleh orang lain. Sedangkan dengki sikap tidak senang ketika orang lain mendapatkan kenikmatan atau bahkan menginginkan agar kenikmatan itu hilang. Apabila kedua sifat ini berkobar dalam diri, maka akan memunculkan hati panas, menciptakan konflik dan permusuhan dan tentu saja akan mengalami ketegangan dalam hidupnya.

Ketujuh, bersikap positif, berjiwa besar dan realistis dalam menghadapi setiap masalah.
Beberapa kiat tersebut, insya Allah akan membantu dalam menghadapi stress atau tekanan, sehingga akan terhindar dari keinginan untuk melakukan bunuh diri seperti yang sering terjadi saat ini.
Wallahu A’lam bhisshowab