Memperlakukan Buku

Buku Gudangnya Ilmu, Membaca Kuncinya. Apakah ungkapan ini masih berlaku di era sekarang? Ketika dunia semakin canggih dengan perkembangan teknologi sedemikian pesatnya.

Berbagai pengetahuan dan informasi saat ini dapat diperoleh secara mudah dan cepat melalui media internet. Kalau buku harus diketik dan kemudian dicetak terlebih dahulu, maka dengan media internet tidak perlu lagi proses yang panjang dan mahal tersebut.

Namun, keberadaan buku ternyata tetap saja penting bagi kehidupan manusia. Buku dan media internet masing-masing memiliki kelebihannya. Pertanyaan menarik yaitu bagaimana perlakuan kita selama ini terhadap buku.

Paling tidak, ada empat kategori manusia dalam memperlakukan buku.

Satu, teman dekat. Buku menjadi sesuatu yang dekat dengan kehidupan kesehariandan selalu berada di sampingnya. Konsekuensinya, hampir setiap hari atau minggu harus membaca buku. Setiap ada buku baru bawaannya pengin baca atau beli.

Dua, teman biasa. Buku hanya sekedar pelengkap dan tidak begitu memperhatikan keberadaannya. Kalau membutuhkan informasi atau literatur baru mencari buku.
Tiga, teman jauh. Tidak ada komunikasi yang baik dengan buku. Hanya sewaktu-waktu saja membaca buku, terutama kebetulan nemu buku yang menarik.
Empat, tidak kenal. Nyaris kehidupannya tidak pernah berinteraksi dengan yang namanya buku. Bagi manusia kategori ini buku seolah barang asing dan tidak dibutuhkan.

Lantas bagaimana sebaiknya memperlakukan buku itu? Menjawab pertanyaan ini tidaklah mudah. Masing-masing manusia akan menjawab sesuai dengan kebiasaan dan kepentingannya. Bagi mereka yang menjadikan buku sebagai teman dekat, maka dia akan memperlakukan buku itu dengan sebaik dan seramah mungkin. Bukunya dipelihara, dikasih tempat yang layak dan tentu saja dibaca.

Sebaliknya, bagi mereka yang memposisikan buku sebagai sesuatu yang tidak dikenal, maka bagaimana mungkin mau memperlakukan dengan baik, wong kenal dengan buku saja tidak!

Akhirnya, ungkapan “ Buku gudangnya ilmu, membaca kuncinya” akan tetap relevan sepanjang kehidupan manusia dan tidak tergantikan. Mungkin yang membedakan bahwa sekarang ada ungkapan lain sebagai saingan buku yaitu “ internet gudangnya informasi, ngenet kuncinya.”