Kiat Mendidik Anak

Akhir-akhir kita patut waspada dengan kehidupan anak-anak, yang berada di tengah arus globalisasi, dengan perkembangan iptek serta informasi yang pesat. Di satu sisi, perkembangan iptek memberi kemudahan dan mendukung aktualisasi peran kehidupan kita, akan tetapi dampak buruknya pun begitu terasa. Sebut salah satu contohnya ‘benda mungil’ televisi, yang bagi sebagian anak seolah sudah menjadi – sesuatu yang amat menarik dan istimewa-.

Melalui televisi, anak mencontoh dan menginginkan dirinya seperti apa yang ada di dalam televisi. Mungkin tidak masalah kalau acara yang ditontonnya bermanfaat dan bersifat mendidik. Akan tetapi kenyataannya, banyak tayangan televisi yang sesungguhnya dapat merusak dan membahayakan perkembangan serta perilaku mereka. Tayangan fim yang berbau kekerasan, percintaan, kesyirikan, sifat hidup hedonisme sering kita jumpai termasuk pada acara kartun yang paling digemari anak-anak. Kadang televisi bagi sebagian anak lebih ditaati ketimbang guru atau orang tuanya.
Belum lagi pergaulan anak dan remaja saat ini yang amat mengkhawatirkan, sebagai imbas dari modernisasi budaya barat. Nampaknya kebiasaan dan pergaulan mereka sudah jauh dari norma, baik agama maupun norma masyarakat. Pergaulan bebas, penggunaan narkoba, perkelahian pelajar dan pacaran sudah menjadi budaya remaja saat ini.

Selayaknya berbagai kenyataan tersebut, mendapat perhatian para orang tua. Mengapa? Karena peran orang tua amat besar pengaruhnya dalam mendidik anak, yang apabila tidak serius menanganinya anak bisa terjebak dan jatuh didalamnya. Harapan agar anak tumbuh cerdas dan sholih akan menjadi sirna.

Keberadaan anak dalam Islam
Islam merupakan agama yang begitu indah dan sempurna, didalamnya telah diatur bagaimana mengarungi kehidupan ini termasuk tentang anak. Ternyata, Islam begitu memperhatikan masalah yang satu ini.
Dalam Al Qur’an surat An-nisa ayat 9, Allah SWT berfirman yang artinya
‘ Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka, anak-anak yang lemah dan mereka (orang tua) khawatir terhadap (kesejahteraan). Oleh karena itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan mereka mengucapkan perkataan yang benar.’

Bunyi ayat tersebut menunjukkan bahwa setiap orang tua perlu memikirkan sekaligus mempersiapkan agar anak-anaknya berada dalam keadaan baik atau sejahtera. Jangan sampai anak-anaknya nanti menjadi lemah. Lemah dalam apa? Lemah dalam keimanan, ekonomi, ilmu pengetahuan, keterampilan, akhlaq dan lemah fisiknya.
Beberapa hal mendasar tentang keberadaan anak patut kita pahami,
Pertama, anak merupakan perhiasan dunia dan penyenang hati. Maksudnya bahwa hadirnya anak bagi orang tua menjadi kebanggaan dan akan membawa kebahagiaan.

Kedua, anak juga sebagai ujian dan amanah. Dalam hal ini anak menjadi tanggung jawab orangtua untuk mengurus dan mendidiknya. Anak merupakan titipan yang akan dimintai pertanggungjawaban di akherat kelak.
Ketiga, mendidik anak merupakan perbuatan yang sangat mulia. Barang siapa yang berhasil mendidik anak, maka pahalanya melimpah dan akan dimasukkan dalam surga.
Keempat, ketika mendidik anak, para orang tua akan dihadapkan pada berbagai masalah, tantangan dan ujian yang berat terlebih di era saat ini. Maka orang tua perlu memiliki ilmu yang memadai, di samping kesabaran dan keikhlasan semata-mata hanya mengharap ridlo Allah SWT.

Kiat mendidik anak
Mendidik bukanlah pekerjaan mudah. Apalagi mendidik anak sendiri yang setiap harinya berada di tengah-tengah keluarga. Mau tidak mau segala kelebihan dan kekurangan orang tua akan dengan mudah dilihat dan diketahui mereka.

Beberapa kiat yang perlu dilakukan dalam rangka mendidik anak adalah,
Pertama, mendidik dengan sifat keteladanan. Sifat ini merupakan faktor terpenting dan utama. Mengapa? Karena akan membekas pada diri anak. Sikap lemah lembut, kejujuran, tanggung jawab dan menghargai merupakan teladan yang harus diberikan orang tua. Jangan harap anak akan bersikap ramah kalau orang tuanya suka marah. Begitu pula, tak mungkin anak rajin ke masjid kalau orangtuanya sering terlambat atau bahkan meninggalkan sholat.

Kedua, mendidik dengan nasehat. Melalui nasehat akan membuka mata, hati dan pikiran anak akan kesadaran tentang hakikat sesuatu. Dalam memberi nasehat perlu dilakukan dengan ramah dan tepat. Ramah dalam penyampaiannya dan tepat waktunya.

Ketiga, mendidik dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Pada hakikatnya setiap anak butuh perhatian dan kasih sayang orang tua. Persoalannya, ketika orang tua sibuk dengan pekerjaan, maka menjadi terabaikan atau bahkan tak peduli sama sekali. Biasanya anak akan mengalami broken home dan akhirnya lari ke tempat atau lingkungan yang buruk. Perhatian yang penuh dan kasih sayang tulus kepada anak merupakan keniscayaan.
Keempat, dalam mengajarkan sesuatu perlu memperhatikan situasi kondisi yang tepat serta sesuai dengan kemampuan. Anak-anak bukan orang dewasa, mereka terkadang masih senang bermain. Butuh kesabaran ketika mengajarnya jangan sampai ketika mereka belum bisa, lantas orang tua memarahi. Sifat ini tentu tidak tepat di samping anak akan menjadi frustasi.

Kelima, hendaklah orang tua bersikap adil dan tidak membeda-bedakan terhadap anak-anaknya. Tidak boleh dalam keluarga ada anak emas dan menganaktirikan yang lain. Semua diperlakukan sama dan mendapat perhatian serta kasih sayang. Kalau orang tua pilih kasih timbul iri dengki dan bisa menimbulkan persaingan bahkan permusuhan.
Keenam, berikan pendidikan yang mampu mengembangkan akal dan hati secara terpadu dan seimbang. Tidak hanya akal (kecerdasan) yang diperhatikan tetapi kalbunya juga. Sehingga akan tumbuh anak yang cerdas dan sholeh, kaya dan tawadlu, rajin sholat dan pekerja keras.

Ketujuh, tegakkan aturan di rumah dengan benar dan disiplin. Aturan sebaiknya dimusyawarahkan terlebih dahulu dengan seluruh anggota keluarga. Misalnya kapan boleh nonton televise?, Tayangan apa? Kapan waktunya belajar dsb. Bila ada yang melanggar maka secara konsekuen diberi sanksi yang bersifat mendidik. Sanksi tidak hanya berlaku bagi anak tetapi juga orang tua sendiri.

Kedelapan, orang tua perlu mengetahui teman atau lingkungan, di mana anak bermain dan bergaul. Jangan sampai mereka berada di lingkungan dan pergaulan yang buruk. Namun usahakan tidak kaku dan terlalu membatasi pergaulan mereka.
Kesembilan, berikan pujian (reward) ketika anak berhasil menunjukkan prestasi atau perilaku yang baik. Anak yang rajin sholat tidak salah diberi hadiah, prestasi belajarnya meningkat dibelikan sepeda/mainan yang sesuai keinginan. Sebaliknya, ketika anak melakukan kesalahan, perlu ditegur dan diberi nesehat secara bijak. Walau salah, anak tetap ingin dihargai dan dimaklumi kesalahannya, tidak lantas dimarahi secara berlebihan.

Kesepuluh, budayakan untuk gemar membaca. Alangkah baiknya apabila di rumah ada perpustakaan keluarga sehingga seluruh anggota termotivasi untuk senang membaca dan mengkaji ilmu.

Demikian sepuluh kiat praktis berkenaan dengan mendidik anak. Perlu diingat, bahwa terjadinya fenomena anak yang nakal, berani menentang orang tua dan senang hura-hura salah satunya disebabkan kegagalan orang tua dalam mendidik mereka.
Mendidik anak membutuhkan ilmu, kesabaran dan keiklasan. Mungkin dirasa berat, akan tetapi apabila kita mengetahui bahwa salah satu investasi pahala yang tidak terputus ketika seseorang meninggal dunia adalah anak sholeh yang mendo’akan orang tuanya. Semoga dengan perjuangan dan didikan orang tua, akan tampil anak-anak yang sholih, cerdas dan bermanfaat bagi sesamanya.
Walahu ‘a lam bhisshowab