Guru Kesulitan Membuat Karya Tulis

PURWOKERTO-Ketua Asosiasi Guru Penulis Seluruh Indonesia (Agupena) Jawa Tengah, Deni Kurniawan As’ari menyatakan, banyak guru yang kesulitan membuat karya tulis. Bagi guru PNS, hal itu mengakibatkan terkendalanya mendapatkan poin dalam sertifikasi.

Untuk mengatasi hal tersebut, menurut Deni, Agupena menyelenggarakan workshop penulisan di daerah-daerah, seperti di Purwokerto, Kamis lalu. Melalui kegiatan itu, diharapkan para guru dapat sedikit demi sedikit menulis artikel di media massa untuk mendapatkan poin.

Meski baru pertama kali diselenggarakan, workshop tersebut diikuti lebih dari 250 peserta dari kalangan guru, dosen, kepala sekolah, pengawas, widyaiswara, pemerhati pendidikan dan tenaga kependidikan. Adapun materi teknik penulisan artikel, disampaikan wartawan Suara Merdeka Biro Banyumas, Didi Wahyu.

Minta Penghargaan

Semangat para guru untuk bisa menulis juga cukup besar, terbukti banyak pertanyaan yang dilontarkan pada pemateri. Salah satu peserta dari Banjarnegara, Joko Sulistiono, yang mempertanyakan dari sekian banyak artikel yang dimuat di SM, berapa persen kuota yang disediakan untuk pendidikan.

Selain itu dia juga mengusulkan bagi guru yang tulisannya dimuat selain mendapat honor juga diberi piagam. “Piagam tersebut bermanfaat untuk melengkapi berkas kenaikan pangkat ke IV B,” ujarnya berharap.

Bahkan, ada guru yang mengusulkan, meski tulisannya tidak dimuat, diberi tanda bukti pernah mengirim artikel. Dalam menyampaikan materinya, Didi Wahyu mengemukakan sejumlah kriteria agar tulisan yang dikirim bisa dimuat di media massa. Kriteria itu di antaranya, memiliki analisis yang tajam, penulis menguasai topik yang dibahas serta merupakan tulisan yang orisinil atau buah pikiran asli penulis.

Selain itu, setiap artikel hendaknya mengandung hal baru yang belum pernah dikemukakan penulis lain, baik informasinya, pandangan, pencerahan, saran, maupun solusinya. Peserta juga ada yang berharap SM biro Banyumas bersedia memberikan bimbingan atau konsultasi bagi penulis terutama para guru.

Acara workshop yang dibuka Kepala Dinas Pendidikan, Purwadi Santoso diisi pula dengan bedah buku. Khusus untuk acara penulisan artikel, sebagian peserta menilai waktunya sangat kurang. (P 16-75)

(Sumber: Suara Merdeka).