Siti Hajar dan Kesadaran Pentingnya Pendidikan

Miris, sedih dan marah. Itulah ungkapan hati saya sore kemarin, saat menyaksikan percakapan antara Siti Hajar —–seorang TKW yang disiksa majikannya di Arab—- dengan kakak serta putra sulungnya. Melalui siaran langsung di Liputan 6 Petang SCTV ditunjukkan bagaimana kondisi Siti Hajar yang lebam dan babak belur. Kasus ini dan seperti kasus lainnya yang sering terjadi menunjukkan betapa nasib warga Indonesia yang sedang bekerja di luar negeri itu sangat rentan siksaan. Fenomena ini menambah daftar panjang adanya ketidakberesan dalam pengelolaan dan perlindungan para TKI.

Siti Hajar, seorang TKW asal Garut Jawa Barat itu, rela meninggalkan suami, anak dan sanak familinya tercinta demi mencari sesuap nasi di negeri orang. Namun niat baik itu justru membawa petaka baginya. Tiga tahun bekerja di Malaysia bukannya diberi gaji malah mendapat siksaan berupa pukulan dan siraman air panas. Patut dipertanyakan kepada pemerintah dan BNP2TKI sejauhmana perlindungan para pahlawan devisa itu saat bekerja di luar negeri.

Yang lebih membuat saya pilu, ungkapan Siti Hajar kepada anaknya, “Toni, kunaon ibu jadi kieu?” (maksudnya: Toni, kenapa ibu jadi begini?) sambil menangis terisak-isak. Dan Toni, putra sulungnya itu tentu tidak sanggup berbicara sepatah kata pun melihat gambar ibunya yang terlihat jelas di layar kaca sangat rusak dan penuh luka itu.

Namun, di sisi lain ada yang menarik dari ungkapan Siti Hajar kepada putranya. “Udahlah Toni, jangan memikirkan ibu terus. Yang harus selalu Toni pikirkan adalah kelanjutan sekolah. Ibu bekerja adalah untuk Toni, biar Toni bisa terus sekolah sampai SLTA,” katanya sambil terisak. Ungkapan tersebut bagi saya sangat menyentuh dan dalam maknanya. Perjuangan seorang ibu untuk menyekolahkan anaknya sungguh luar biasa, bahkan harus ditebus dengan siksaan. Di satu sisi saya prihatin dan sedih akan nasib yang menimpa Siti Hajar itu, namun di sisi lain terselip rasa bangga betapa ibu paruh baya ini memiliki kesadaran yang tinggi tentang pentingnya pendidikan.

Pertanyaannya adalah kapan biaya pendidikan di negeri ini akan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya oleh orang kaya saja. Sehingga ke depan tidak perlu ada lagi Siti Hajar yang lain yang mengalami nasib serupa.

Wallahu A’lam bhissowab.