Naijan, Pilot Agupena Berjiwa Sosial Tinggi

Lahir di Tangerang 28 Agustus 1969. Lulus IKIP Jakarta tahun 1990. Lalu melanjutkan ke International Islamic University (IIU) Malaysia (1991-1993). Menulis cerpen untuk surat kabar nasional sejak kelas 1 SMA. Pernah menjadi jurnalis freelance untuk beberapa surat kabar. Sejak 1998 hingga hari ini menulis skenario sinetron dan film. Aktif di organisasi penulisan FLP. Kini diamanahkan menjadi Ketua Umum Pengurus Pusat AGUPENA (Asosiasi Guru Penulis Indonesia) masa bhakti 2010-2015.

Itulah biodata singkat Naijan yang dapat dilihat di blognya: Gudang Skenario Film. Pria yang telah menginjak usia 42 (empat puluh dua) tahun itu termasuk tokoh Agupena yang dekat dengan saya—-atau saya yang geer kali merasa dekat—- Beberapa ‘rahasia’ pribadi saya ada di tangan beliau, hehe. Saya bersyukur bisa mengenal secara dekat sang nakhoda Agupena 2010-2015 iniyang lebih terkenal dengan sebutan Naijan Lengkong. Ya, Naijan Lengkong bukan nama asing dalam blantika kepenulisan Indonesia terutama terkait dengan karya kreatif untuk tayangan televisi —skenario sinetron & film— Tangan dingginnya telah melahirkan pelbagai karya kreatif yang akhirnya berwujud sinetron dan film yang spektakuler itu. Sebagian diantaranya Si Entong (TPI/MNCTV), Keluarga Senyum (MQTV/TransTV), Matahariku (Indika/SCTV), Siti Cinderella (TPI/MNCTV), Subhanallah (Indika/TPI), Azab Illahi (Lativi/TVONE) dan lain-lain.

Saya melihat secara langsung, ketika dalam suatu kesempatan berkunjung ke rumahnya yang luas, bagaimana dampak kemampuan menulis beliau terhadap kesejahteraan hidup keluarganya. MAU KAYA JADI PENULIS itulah salah satu tulisan beliau di blog agupena pusat dan saya tidak bisa membantahnya. Betul apa yang beliau kemukakan, bahwa kalau kepengin kaya maka jadilah penulis. Dan ia telah membuktikannya.

Yang lebih menarik lagi, bahwa sosok ini termasuk yang berjiwa sosial tinggi. Banyak amal sosialnya yang dilakukan secara ikhlas dan tulus baik dalam kapasitas pribadi maupun sebagai Ketua Umum Agupena. Bayangkan, demi mengemban amanah organisasi, beberapa bulan lalu beliau keliling Sumatera untuk pengembangan wilayah Agupena dengan menggunakan dana pribadi. Luar biasa bagi saya, karena bolak-balik menggunakan pesawat, yang tentunya butuh budget yang tidak sedikit.

Kedermawanan Pak Naijan pun dirasakan oleh orang-orang di sekitar beliau. salah satunya seperti dikemukakan oleh Asep, seorang staf pribadi di kantornya. ” Bapak itu orangnya baik, menjadi figur ayah yang bijaksana dan berjiwa sosial tinggi. Selama saya bekerja dengan beliau, saya sering dibantu bapak, ” papar Asep.

Posisi Naijan di Agupena semakin mengukuhkan dirinya sebagai orang yang memiliki sikap hidup yang ingin berbagi dengan sesama terutama para guru. tidak salah, ketika Agupena semakin berkibar dan mengepakkan sayapnya. Tiga agenda besar dalam upaya pengembanga organisasi Agupena telah beliau lakukan dengan sukses. Pertama, mengadakan musyawarah luar biasa (muswilub) Agupena untuk penyelamatan organisasi ketika ketua umum pertama—-Bapak (Alm) Achjar Chalil—- telah pergi untuk selamanya. Kedua, mengadakan rapat kerja nasional (rakernas) dengan mengundang para pimpinan wilayah Agupena se-Indonesia dan ketiga, silaturahmi dan audiensi dengan Wakil Mendiknas RI yang sekaligus Ketua Dewan Penasehat Agupena.

Saya berkeyakinan, di bawah kepemimpinan beliau Agupena akan semakin eksis, berkembang dan menjadi organisasi profesional. Salah satu PR Pak Naijan adalah mengingat betul apa yang dikemukakan Pak Wamendiknas saat audiensi : Agupena harus mampu tumbuh dan berkembang menjadi organisasi guru penulis yang benar-benar profesional. Maksud profesional, kata beliau, Agupena harus mampu hidup mandiri, tidak bergantung pada institusi mana pun (termasuk Kemendiknas). Untuk itu, semua anggota perlu mambangun komitmen yang kuat, menjaga konsistensi, agar Agupena tetap menjadi organisasi yang solid. (Wardjito Soeharso : http://agupena.org).